Pagi yang indah,aku begitu bersemangat mengawali hari ini....
meski hatiku terasa sedih saat malam menjemput kebingungan melanda hatiku yang membuatku bimbang,ada seorang cowo yang jelas ngpens banget kayanya sama aku..?hehehe bangga banget sih aku?!!!!!hatiku berkata... tapi cowo itu berlebihan memujaku,memujiku bagaikan bidadari yang selalu ada dihidupnya tapi cowo itu KEONG RACUN...!!!!!!!!UPZ...Salah namanya katanya sih Resa tapi gak pentinglah untuk dibahas...!!!!hehe...
oya sampe lupa aku nala aku cewe anggun yang lembut dan sedikit berbicara alias pendiam?hehehe.., aku paling suka mencurahkan perkataan dan perasaanku kedalam sebuah lembaran kertas kosong dan berbalut smpul berwarna biru muda,.i like biru muda.... hehehe...
aku murah senyum loh,makanya aku suka disebut temen-temen aku cengengesan abisnya apa-apa senyum tapi baguslah senyum itu kan ibadah...?!!iya gk?iya gak?hmmmpt....ini kisah senduku kutuangkan ini agar rasa ini tak terlalu sesak kupendam didalam hati...
dret...dret.... "hmmmpt...sms dari sapa nc?hah...yoga?tumben dia sms aku,!!" "hy..gy apa nc?"tanyanya lewat sms... aku balas sms itu "hy jga...gy bersiin rumah nc?jawabku... hmmmpt...lama sekali aku tak bertemu dengannya mungkin 1tahun aku tak berkomunikasi dengannya aku dapet no dia aja pas kmren chat bareng yaudah karena mersa lama banget dan kebetulan aku dah lama memendam rasa suka dengannya dan mendapatkan nonya kembali tak mau kutunggu lama dia sms aku langsung sms dia duluan...
beberapa menit kemudian setelah lama ku mulai akrab kembali dengannya dan hampir setiap hari aku mendapatkan sms darinya.lalu satu kata KANGEN terucap darinya.... hmmmmpt...hatiku melayang ketika dia mengucapkan itu,tak pernah kuduga cowo sedingin dia mengucapkan kata semanis itu,. aku menjawab jujur karena memang aku kangen juga malah sangat kangen sama dia kekonyolan,senyumannya yang khas tak lupa kacamatanya yang terlihat tebal semakin menambah ingatanku tentangnya saat masih duduk dibangku SMP dulu.Sampai-sampai aku dan sahabatku menjulukinya Kacamata kodok..?!hehe...
Tak ada yang disembunyikan lagi diantara kita karena kami sangat terbuka satu sama lain namun saat itu dia berkata "AKU SUKA KAMU SEJAK DULU bahkan aku mengharapkan kamu sesekolahan denganku nal,..!!!sms itu cukup menaruh penyasalan bagiku kenapa dia tak mengatakan ini sebelumnya,sebelum aku mencabut pendaftaranku,sebelum keyakinanku masuk kesekolahanku sekarang,sebelum aku berpacaran dengan mantanku,sebelum semua itu karena bagiku kamulah yang pertama yang ada dihatiku walaupun akhirnya aku berpacaran dengan ilham teman sebangku tapi jujur hati aku tetap menyimpan rasa istimewa ini padamu...
diapun meneruskan kata-kata smsnya"Aku takut kamu belum bisa melupakn ilham nal,sehingga aku tutup mulut ini dan kusimpan perasaan ini setelah aku nenar-benar yakin kamu telah melupakan ilham.dan mungkin ini waktu yang tepat untuk ku ucapkan aku sayang kamu nal,kamu mau gak jadi pacar aku?" ku masih tak percaya yoga mengucapkan itu aku sedikit ragu saat itu namun sungguh aku tak bisa menahan kebahagiaan ini "Aku juga sayang sama kamu yog jauh sebelum aku mengenal ilham namun kamu terlalu cuek sedangkan ilham terus mendekat dan membuat aku lupa sama kamu yog..." "mengapa saat itu kamu tak membari sinyal padaku nal?"ledeknya.... "Ya,abisnya kamu yang so,cool padahal gak cool juga buat aku jadi ilfeel sdikit ama kamu yog?hehehe" jawabku...
komunikasi itu terus berlanjut aku kira semua hanya candaannya saja namun dia terus menanyakan jawabanku hingga dia menyodorkan pertanyaan "Y,klo mmng km msh ragu mending untk saat ini kita kaka"n ama ade"n aja?gmna ?trus jwbannya kaka tunggu ya ktika kita bertemu?!janji yah!!hehehe... "OK kaka" celotehku... memang lucu tapi aku waktu itu tak terbiasa memanggailnya dengan sebutan kaka karena biasanya kan aku yang suka disebut kaka dirumah?!hehe...
Berbulan-bulan berlalu aku masih belum bertemu dan berniat untuk bertemu dengannya aku tak bisa berlama-lama menunggunya,.
kemudian saat aku iseng berjalan dengan sepupu ku mia menuju perpustakaan daerah tak sengaja kumelihat seorang pria memakai kos putih polos dengan kacamta tebal "nala,nala,itu...itu...kayanya aku pernah ngliat orang itu..,sapa ya?oooooh...Yoga2 iya itu yoga!!!! aku menoleh dan ternyata........... semakin menjauh-jauh....jauh.......dan jauh........... padahal ingin ku berteriak dan berkata I LOVE U ka....ka....ka....KACAMATA KODOK.....
Jumat, 24 September 2010
Ingatkan Aku, Kita Bergantian
Sedari tadi Ku lihat Dani duduk termangu di balkon lantai 2 kos tempat kami tinggal setahun belakangan, tak sedikitpun ada gerakan pertanda ia hidup, sunyi. kuperhatikan pandangan matanya jauh ke depan, seperti sedang menjelajahi tempat-tempat tak bertuan di balik awan pekat, awan mendung. Kedua tangannya menopang dagu, dengan kaki duduk bersila.
“Dari tadi Dan di Sini? kok sendirian?”, sapaku yang berusaha mengembalikan dia dari perantauan imaji tak berkesudahan.“Iya”. jawabnya singkat.
“Puasa?” Tanyaku basa basi. Ini pengalaman pertamaku melaksanakan puasa dengannya.
“Dari Makan dan minum, entah puasa hati”. jawabnya ketus.“Maksudmu?”. aku terheran.
“Entahlah, sudah seperempat abad usiaku, aku belum menemukan makna puasa yang lebih dari hanya sekedar menahan makan, minum, marah, nafsu, atau apalah, semua serba hambar. lapar dan hausku tak jua menjadikanku paham arti kelaparan. aku masih bisa melampiaskan makan saat berbuka dan sahur, ini Cuma perkara memindahkan jadwal makan saja. menahan marah? aku sudah biasa. marah bukan kebiasaanku. Syahwat? Wanita single paling pintar menahan syahwat. Bukan pintar meng-akali, tapi karena tidak tahu cara melampiaskannya. Entahlah, aku ingin menggali lagi makna yg lebih dari itu semua. Aku ingin meng-akrabi hatiku, rohku.”
“Mengakrabi hati? Roh? Aku tidak paham”. Tanyaku penasaran.
“Bukankah tubuh ini terdiri dari jasmani dan rohani? Makan, minum, syahwat, itu semua perkara daging. Lalu mana yang perkara roh? Aku benar-benar tak paham ke-roh-anku, hatiku”. Dia melanjutkan“Ah kawan, kenapa kau terlalu kaku memisahkan antara keduanya? Bukankah itu menjadi kesatuan yang saling beriteraksi? Keduanya saling mempengaruhi bukan? Dan hatimu punya porsi yang lebih besar untuk mengendalikan. Ketika puasa, jasmani dikendalikan roh. Coba kalau tidak puasa, kita akan selalu melampiaskan. Roh menuntun daging, menahan.” Jawabku sekenanya.
Dani mulai berdialog ke “dalam”, antara pertanyaan dan jawaban, tentunya dibenaknya sendiri.
“Pertanyaan mendasar, ketika berbuka puasa, kita merasa bahagia, karena itu waktu yang kita nanti-nantikan. Pertanyaannya kemudian, bahagia kita karena apa? Karena telah berhasil MENAHAN atau karena bertemu dengan makanan-makanan enak yang telah kita timbun sejak sore tadi dan siap membalas dendam?” tanyaku.
Dani makin keras berdialog dalam ruang yang tak mampu ku hadir di dalamnya, ruangan imaginya sendiri.
“Coba aku Tanya, secara spiritual, selama ini apa yang kamu rasakan dengan berpuasa?” tanyaku lagi.
“Secara spiritual? Maksudmu?” tanyanya menjawab pertanyaanku.
Perasaan hatimu, rohmu. Bukankah kau ingin meng-akrabi hatimu? Untuk akrab, kau harus pahami dulu wujud dari hatimu itu, kepada siapa hatimu tertuju.
“Entahlah, kadang merasa lebih dekat denganNYA, menuju kepadaNYa, kadang tak pengaruh. Ah, bahkan mungkin lebih sering tak mempengaruhi, hanya kulakukan sebagai rutinitas keagamaan, sama seperti halnya sholat. Makanya aku ingin mencarinya, memahaminya, menjalaninya dengan hati.”
“Ah, aku jadi ingat isi kolom Hikmah di salah satu surat kabar harian, Teori Teilhard de Chardin kalau tidak salah, dia bilang: “We are not human beings having a spiritual experience. We are spiritual being a human experience.” (Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi. Manusia bukanlah makhluk bumi, melainkan makhluk langit).
“Allah bilang:“Puasa itu untukKU”. Pernah dengar hadits itu?”, lanjutku.
Dani menggeleng.
“hehehe, puas betul aku membuatmu makin terperangkap dalam jurang imajimu sendiri”. Kutepuk bahunya, “Sudahlah, nanti malam kita diskusikan lagi. Sholat dulu sana, siapa tahu ketemu jawabannya”. candaku memecah keseriusan.
“Nanti saja, aku belum “IN”, aku belum siap menghadapNYA. kepala ini masih penuh dengan perdebatan.”
“Santai aja Dan, terkadang, ada waktu di mana agama tidak untuk dipikirkan, tapi dijalani dengan kepasrahan. Tapi, terserah kamu saja, sebagai teman aku hanya mengingatkan. Menjalankan ibadah itu mutlak hak pribadi setiap orang. Toh sewaktu-waktu ada masa di mana kamu yang mengingatkan aku, kita bergantian.”
18.35 WIB
“Aku tarawih di kos saja, aku tidak menemukan kenikmatan sholat berjamaah di masjid”. pintanya kepadaku.
“Padahal aku baru saja ingin mengajakmu itikaf bersama di masjid selepas tarawih. kalau aku lebih senang berjamaah di masjid, pahalanya berkali lipat, dan juga ada suasana meriah kurasakan”. jawabku sedikit persuasif.
“Ah, lagi-lagi aku kehilangan makna sholat dan puasa dari kalimatmu itu.”
“Apa lagi ini?” Tanyaku penasaran.
“Kamu pikir, puasa dan sholat itu keramaian atau kesunyian?”
Aku terdiam, Kali ini aku yang dibuatnya berfikir, menyelami kata-kata yang kuucapkan sendiri barusan. dan akhirnya menggeleng.
“Tadi selepas Ashar, aku coba browsing hadist yang kau bilang. Kalau puasa itu untuk Allah semata, kenapa kita menciptakan kemeriahan? Bukankah seharusnya kesunyian? Kenapa harus Sholat berjamaah? kenapa itikaf harus di bangunan kubah yang kita sebut masjid?, kenapa tidak di rumah saja yang jelas-jelas menawarkan kesunyian? Bukankah puasa, sholat sekalipun, adalah ritual kita untuk hanya berdua-an denganNYA saja, aku sebagai roh, berpacaran dengan DIA si pencipta roh.”
Ah, kali ini dia benar-benar berhasil membawaku ke ruang imajinya, aku berfikir keras. “Aku pikir, kesunyian dan keramaian itu tidak terbatas dalam ruangan kasat mata. Di tengah keramaianpun aku bisa menghadirkan kesunyian. Itu semua tergantung apa yang jadi prioritasmu. Dalam sholat dan puasa, aku menghadirkan Allah sebagai pihak utama. Aku pikir itu saja sudah cukup untuk menghadirkan kesunyian, dan membelakangi keramaian duniawi”. Jawabku spontan.
“Mengenai itikaf? Oke, aku setuju. Itu bisa dilakukan di mana saja. Masjid tidak selalu terbatas pada apa yang kita lihat sebagai bangunan berkubah saja. Tempat apapun bisa jadi masjid jika kita gunakan sebagai tempat bersujud kepadaNYA, asalkan bebas dari najis.”
Kali ini kami berdua sama-sama mengangguk.
“Oke, nanti selepas tarawih di masjid aku langsung pulang, itikaf di kamar saja. Kita lanjut diskusikan sebelumnya”. Ucapku.
“Sepertinya kita harus tarawih di rumah saja, kau tak lihat hujan deras di luar?” ucap Dani sambil mengarahkan mataku menuju luar jendela.
“ah sebal, kenapa hujan selalu datang di waktu yang tak tepat, padahal aku ingin sekali hadir di masjid malam ini.” Gerutuku kesal.
“hahaha, lagi-lagi kau membuatku ketawa San.”
“Kenapa?” Tanyaku heran.
“Caramu menyalahkan hujan. Hujan itu bukannya sunatullah? Dia hanya mengikuti hukum gravitasi, Itu sudah ketentuanNYA. Ah, semakin lucu San, Tuhan kita adalah kepentingan kita.”
“Aku tak paham maksudmu?”
“Cara kamu menyalahkan hujan, caraku menunda sholat. Hujan kamu salahkan, sholat aku tunda-tunda dengan dalih macam-macam. Ah, semua jadi terlihat salah dan terlihat benar kalau dibenturkan dengan kepentingan kita. Tuhan tidak kita libatkan.”
Kali ini kami sama-sama terdiam. Diskusi yang melelahkan.*** Terinspirasi dari tausyiah Cak Nun di Masjid Ijtihad,Tebet, 21/08/10, catatan pinggir Goenawan Mohhamad judul “Daging”, dan kolom hikmah harian republika tgl 13/08/2010..
“Dari tadi Dan di Sini? kok sendirian?”, sapaku yang berusaha mengembalikan dia dari perantauan imaji tak berkesudahan.“Iya”. jawabnya singkat.
“Puasa?” Tanyaku basa basi. Ini pengalaman pertamaku melaksanakan puasa dengannya.
“Dari Makan dan minum, entah puasa hati”. jawabnya ketus.“Maksudmu?”. aku terheran.
“Entahlah, sudah seperempat abad usiaku, aku belum menemukan makna puasa yang lebih dari hanya sekedar menahan makan, minum, marah, nafsu, atau apalah, semua serba hambar. lapar dan hausku tak jua menjadikanku paham arti kelaparan. aku masih bisa melampiaskan makan saat berbuka dan sahur, ini Cuma perkara memindahkan jadwal makan saja. menahan marah? aku sudah biasa. marah bukan kebiasaanku. Syahwat? Wanita single paling pintar menahan syahwat. Bukan pintar meng-akali, tapi karena tidak tahu cara melampiaskannya. Entahlah, aku ingin menggali lagi makna yg lebih dari itu semua. Aku ingin meng-akrabi hatiku, rohku.”
“Mengakrabi hati? Roh? Aku tidak paham”. Tanyaku penasaran.
“Bukankah tubuh ini terdiri dari jasmani dan rohani? Makan, minum, syahwat, itu semua perkara daging. Lalu mana yang perkara roh? Aku benar-benar tak paham ke-roh-anku, hatiku”. Dia melanjutkan“Ah kawan, kenapa kau terlalu kaku memisahkan antara keduanya? Bukankah itu menjadi kesatuan yang saling beriteraksi? Keduanya saling mempengaruhi bukan? Dan hatimu punya porsi yang lebih besar untuk mengendalikan. Ketika puasa, jasmani dikendalikan roh. Coba kalau tidak puasa, kita akan selalu melampiaskan. Roh menuntun daging, menahan.” Jawabku sekenanya.
Dani mulai berdialog ke “dalam”, antara pertanyaan dan jawaban, tentunya dibenaknya sendiri.
“Pertanyaan mendasar, ketika berbuka puasa, kita merasa bahagia, karena itu waktu yang kita nanti-nantikan. Pertanyaannya kemudian, bahagia kita karena apa? Karena telah berhasil MENAHAN atau karena bertemu dengan makanan-makanan enak yang telah kita timbun sejak sore tadi dan siap membalas dendam?” tanyaku.
Dani makin keras berdialog dalam ruang yang tak mampu ku hadir di dalamnya, ruangan imaginya sendiri.
“Coba aku Tanya, secara spiritual, selama ini apa yang kamu rasakan dengan berpuasa?” tanyaku lagi.
“Secara spiritual? Maksudmu?” tanyanya menjawab pertanyaanku.
Perasaan hatimu, rohmu. Bukankah kau ingin meng-akrabi hatimu? Untuk akrab, kau harus pahami dulu wujud dari hatimu itu, kepada siapa hatimu tertuju.
“Entahlah, kadang merasa lebih dekat denganNYA, menuju kepadaNYa, kadang tak pengaruh. Ah, bahkan mungkin lebih sering tak mempengaruhi, hanya kulakukan sebagai rutinitas keagamaan, sama seperti halnya sholat. Makanya aku ingin mencarinya, memahaminya, menjalaninya dengan hati.”
“Ah, aku jadi ingat isi kolom Hikmah di salah satu surat kabar harian, Teori Teilhard de Chardin kalau tidak salah, dia bilang: “We are not human beings having a spiritual experience. We are spiritual being a human experience.” (Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi. Manusia bukanlah makhluk bumi, melainkan makhluk langit).
“Allah bilang:“Puasa itu untukKU”. Pernah dengar hadits itu?”, lanjutku.
Dani menggeleng.
“hehehe, puas betul aku membuatmu makin terperangkap dalam jurang imajimu sendiri”. Kutepuk bahunya, “Sudahlah, nanti malam kita diskusikan lagi. Sholat dulu sana, siapa tahu ketemu jawabannya”. candaku memecah keseriusan.
“Nanti saja, aku belum “IN”, aku belum siap menghadapNYA. kepala ini masih penuh dengan perdebatan.”
“Santai aja Dan, terkadang, ada waktu di mana agama tidak untuk dipikirkan, tapi dijalani dengan kepasrahan. Tapi, terserah kamu saja, sebagai teman aku hanya mengingatkan. Menjalankan ibadah itu mutlak hak pribadi setiap orang. Toh sewaktu-waktu ada masa di mana kamu yang mengingatkan aku, kita bergantian.”
18.35 WIB
“Aku tarawih di kos saja, aku tidak menemukan kenikmatan sholat berjamaah di masjid”. pintanya kepadaku.
“Padahal aku baru saja ingin mengajakmu itikaf bersama di masjid selepas tarawih. kalau aku lebih senang berjamaah di masjid, pahalanya berkali lipat, dan juga ada suasana meriah kurasakan”. jawabku sedikit persuasif.
“Ah, lagi-lagi aku kehilangan makna sholat dan puasa dari kalimatmu itu.”
“Apa lagi ini?” Tanyaku penasaran.
“Kamu pikir, puasa dan sholat itu keramaian atau kesunyian?”
Aku terdiam, Kali ini aku yang dibuatnya berfikir, menyelami kata-kata yang kuucapkan sendiri barusan. dan akhirnya menggeleng.
“Tadi selepas Ashar, aku coba browsing hadist yang kau bilang. Kalau puasa itu untuk Allah semata, kenapa kita menciptakan kemeriahan? Bukankah seharusnya kesunyian? Kenapa harus Sholat berjamaah? kenapa itikaf harus di bangunan kubah yang kita sebut masjid?, kenapa tidak di rumah saja yang jelas-jelas menawarkan kesunyian? Bukankah puasa, sholat sekalipun, adalah ritual kita untuk hanya berdua-an denganNYA saja, aku sebagai roh, berpacaran dengan DIA si pencipta roh.”
Ah, kali ini dia benar-benar berhasil membawaku ke ruang imajinya, aku berfikir keras. “Aku pikir, kesunyian dan keramaian itu tidak terbatas dalam ruangan kasat mata. Di tengah keramaianpun aku bisa menghadirkan kesunyian. Itu semua tergantung apa yang jadi prioritasmu. Dalam sholat dan puasa, aku menghadirkan Allah sebagai pihak utama. Aku pikir itu saja sudah cukup untuk menghadirkan kesunyian, dan membelakangi keramaian duniawi”. Jawabku spontan.
“Mengenai itikaf? Oke, aku setuju. Itu bisa dilakukan di mana saja. Masjid tidak selalu terbatas pada apa yang kita lihat sebagai bangunan berkubah saja. Tempat apapun bisa jadi masjid jika kita gunakan sebagai tempat bersujud kepadaNYA, asalkan bebas dari najis.”
Kali ini kami berdua sama-sama mengangguk.
“Oke, nanti selepas tarawih di masjid aku langsung pulang, itikaf di kamar saja. Kita lanjut diskusikan sebelumnya”. Ucapku.
“Sepertinya kita harus tarawih di rumah saja, kau tak lihat hujan deras di luar?” ucap Dani sambil mengarahkan mataku menuju luar jendela.
“ah sebal, kenapa hujan selalu datang di waktu yang tak tepat, padahal aku ingin sekali hadir di masjid malam ini.” Gerutuku kesal.
“hahaha, lagi-lagi kau membuatku ketawa San.”
“Kenapa?” Tanyaku heran.
“Caramu menyalahkan hujan. Hujan itu bukannya sunatullah? Dia hanya mengikuti hukum gravitasi, Itu sudah ketentuanNYA. Ah, semakin lucu San, Tuhan kita adalah kepentingan kita.”
“Aku tak paham maksudmu?”
“Cara kamu menyalahkan hujan, caraku menunda sholat. Hujan kamu salahkan, sholat aku tunda-tunda dengan dalih macam-macam. Ah, semua jadi terlihat salah dan terlihat benar kalau dibenturkan dengan kepentingan kita. Tuhan tidak kita libatkan.”
Kali ini kami sama-sama terdiam. Diskusi yang melelahkan.*** Terinspirasi dari tausyiah Cak Nun di Masjid Ijtihad,Tebet, 21/08/10, catatan pinggir Goenawan Mohhamad judul “Daging”, dan kolom hikmah harian republika tgl 13/08/2010..
Bandung, 15 Mei
“Cia, udah kamu beresin tuh barang-barang kamu?” tanya Mama sehari sebelum keberangkatan kita menuju rumah baru (sombongnya).
“Udah kok, Mam.. Cia dah beberengkes semua barang-barang Cia” jawabku mantap.
Rencananya kita mau pindah karena rumahku yang ini lokasinya agak jauh dari sekolah yang mau aku tempati nanti. Maklum aku kan baru saja kemarin dapat kabar gembira kalau aku diterima di Sekolah Menengah Atas yang aku mau. Sebenarnya aku juga agak ngotot sih ke Mama Papa buat acara pindah rumah ini, karena awalnya Mam Dad gak ngijinin aku buat sekolah disana. Tapi kalau pada akhirnya kita gak pindah, masa aja aku tiap hari bulak-balik Jakarta-Bandung hanya buat sekolah? Hahaha. Aku memutuskan memilih sekolah di Bandung cz katanya sih sekolah di Bandung bagus. Sepupu aku aja yang dulu sekolah di Bandung sekarang jadi sukses. Siapa tahu aku bisa ngikutin jejaknya. Hihihiw.
J J J
Heloooo? Siapa yang gak tahu? Hari gini tuh lagi ngetrendnya jejaring social facebook. Lagi naik daun lah facebook! N aku, seorang Sisilia Putri Lie, punya hobby banget yang namanya update status dan maen wtw-an (wall-to-wall) sama temen-temen. Pokoknya setiap hari setiap jam aku gak pernah ketinggalan buat nongkrong depan layar. Boh layar kompie, boh layar HP. Banyak testimony asem dari temen-temen maupun keluarga, dari mulai Mama, Papa, Kak Dido atau si Ade Achi sekalipun.
“Si Cia nih, maen facebook-an terus, ati-ati loh jadi korban kopi darat BARU TAU RASA!”
“Husss!”
“Anak Mama kayak orang udik baru tau facebook aja!”
“Kalo kamu terus yang nge-net, kaka kapan dong? banyak tugas nih!”
“Kakak, ntu apasih? Facebook ya? Mau dong ka bikinin Achi. Kalau udah anterin ke kamar ya! Biar besok Achi bawa ke sekolah…”
Haaa, dasar bocah tengil!
Selain ngomel-ngomel terus ke aku, ternyata adik dan kakakku juga laporan sama Mama tentang kelakuan pemalesan yang aku lakonin. Gak jarang aku harus merogoh kocek dalam (kayak shopping ajeh..) hanya sekedar tuk jadi selotip mulut mereka, biar gak comel ke Mama ataupun Papa. Hehe. Tapi lama-lama metode tutup mulut itu udah gak jaman lagi semenjak Kak Dido mengecap bangku kuliah. Ya…namanya juga kuliah, alesan banyak tugas lah, ini lah, itu lah, skripsi lah (padahal sidangnya masih seabad lagi). Hingga akhirnya, semenjak saat itu, Mama lebih memperketat aktivitas nge-net aku, dan aku hanya diijinkan nge-net hari Sabtu dan Minggu DOANG! Huh. Asin.
J J J
Rumah baruku. Oooh, rumah baruku. Peraturan nge-net Sabtu-Minggu itu gak jaman lagi. Disini, rumah baru GITU LOOOCH!!! Sekolah baru pula. Berhubung sekolah yang aku masuki ini terbilang cukup papan atas, Mama ingin ngasih something nih untuk keberhasilanku kali ini J. Aku tentunya gak mau nyia-nyiain kesempatan emas ini. mama bilang aku boleh minta apa aja. Setelah pikir panjang dan bersemedi (hoooooooo!), pada akhirnya aku memutuskan untuk minta pasang modem buat kompie pribadiku. Karena Mama udah janji, jadi skak mat deh buat Mama! Hahaha! (ketawa licik)
Aku agak ngerasa beda sama rumah baruku yang sekarang ini. Dulu kan aku tinggalnya di pemukiman warga gitu (yaiyalah, masa pemukiman satwa). Tapi, sekarang aku tinggal di tempat yang sedikit bergengsi (cieeeh!). ya, di perumahan alias kompeuleks dina basa Sunda mah. Aku harus pinter-pinter adaptasi nih kayaknya. Lebe!
“Mam, kenapa sih kita pindah ke tempat kayak beginian? Cia kan jadi gak bisa akrab ma tetangga kayak waktu dulu….” protes aku.
“Alaaaah...banyak protes kamu! Akrab sih akrab tapi Mama malu kalo kamu salah ngambil jemuran. Jemuran tetangga digaet juga, apalagi ni underwear. Malu kan Mama…”
Ngek-ngok..! Emang sih kalo yang satu ini emang penyakit aku. Hehe. Suuut ah! Aku kan jadi malu. Hiekhiek.
Seminggu, dua minggu, aku dah mulai bisa terbiasa dengan betah tinggal di perumahan. Lha iya, gimana enggak? Wong sekarang betah terus nongkrong depan kompie. Tapi aku belum bisa ngenal-ngenal deket ma para tetangga sekitar. Kuper lo, Cia! Karena kesibukan bertetangga di sekitar rumah gak aku geluti kayak waktu dulu, sekarang aku malah jadi eksis, narsis dan gahol abis di dunia maya –khususnya di jejaring social facebook. Sekarang aku jadi lebih banyak kenalan dan minta kenalan (hehe), sama orang-orang facebook. Iseng geeeeeela!
Tapi kawan-kawan, jangan salah. Dari situ aku jadi punya banyak kenalan. Dari mulai kalangan anak masih ingusan, sampe tante-tante atau om-om? Ada! Ibu-ibu or Bapa-bapa? Available! Dari mulai cewe, cowo, LENGKAP! Dari yang sekolahnya SD sampe yang nganggur, dari tukang becak sampe tukang anggur! Eh, salah ya.. Aaaah pokoknya komplit deh! Lebih komplit dari jamu pegel linu yang suka diminum sama Ibunya si penulis (looh, kok jadi gak nyambung?)
Balik ke facebook. Sama halnya seperti cowok kenalanku yang satu ini. Jaya, begitulah nama panggilannya. Aku tidak tahu nama asli si bocah kampung ini cz di facebook, dia pake nama samaran, alay pula. Asem! “Jaya 9oki3L bieZzZz”. Ih, jijik! (Tapi jijik-jijik masih diladenin juga). Katanya sih dia anak SMA di Bandung juga. Tapi yang jelas gak sesekolah ma aku. Yaeyalah, kalo sesekolah mah gak mungkin aku harus kenalan lagi sama dia. Setiap kali aku menanyakan nama aslinya, dia gak mau ngasih tau, coy! Katanya sih terlalu gokil. Huek!
“AcH, Udda Lakh, SieL! panggiL aJz akk Jaiia. App rBet.a sEe?! naMa asLikuu 2 tLaluu 9oKiL, U knoW??” komentar Jaya yang dia post di wall aku.
Selain pake nama yang alay itu, dia juga gak pasang foto asli dia! Jaaa, dia malah pake fotonya Dude Herlino di profilenya. Huek! Dia pernah sih ngirim foto aslinya ke email aku. Tapi percuma, gan! Dia difoto dari jarang kurang lebih sepuluh meter diatas permukaan laut dengan pose tutup muka dan berbalik badan pula, parah! Tapi itulah yang ngebuat aku jadi penasaran sebenernya Jaya itu seperti apa sih…??? Ditambah lagi kita tuh sama-sama suka apa-apa yang berbau India. Jadi kita makin kesini makin nyambung.
J J J
Di sore menuju malem yang cerah ini, tumben ada tamu yang ketok-ketok marmer. Eh, ketok-ketok pintu maksudnya.
“Assalamualaikum, assalamualaikum, assalamualaikum…!!!”
“Iya tunggu seben….”
Kata-kata aku terputus ketika membuka pintu dan ngeliat makhluk asing berdiri depan pintu.
“Cia, ini teh Cia? Cia kenalin nama saya Rifki, tetangga kamu. Tuh rumahnya!” ucap cowok culun itu sembari menyalami tanganku dan menunjuk sebuah rumah berpagar tinggi tepat di seberang rumah.
Aku segera melepas dan menjatuhkan tanganku dari genggaman tangannya.
“Ada apa ya?” tanyaku dengan sok memamerkan wajah heran.
“Emmmh, gini Cia. Eh, punten ya kalau Rifki teh mengganggu sore Cia yang indah, ganggu waktu bersantai Cia. Tapi Rifki harap Cia gak ngerasa keganggu deh sama Rifki…blablablablablablablablaaa~~” perkataannya melebihi cerewet burung beo.
“IYA! Daripada waktu nyanteiku abis karena dengerin kamu konser, so to the point is better deh!”
“Minta uang koin? Bukan, Rifki mah bukan mau minta uang koin. Gini ya, Rifki teh mau minjem buku astronomi sekolah kamu. Boleh gak, Cia?”
“Emmm. Bo, boleh boleh.. tunggu bentar. JANGAN MASUK!”
Aku segera lari ke kamar tanpa nyuruh si Rifki culun itu untuk menginjak istana aku. Gak lama kemudian, aku muncul dari kamar dan nemuin Rifki sembari ngasih tu orderan (kayak rumah makan aja).
“Pantesan semalem aku mimpi keselek sandal cepit sebelah, nyatanya mau ketemu bocah culun kayak dia. Hieeeh!” aku merinding, bulu kudukku berdiri.
Malemnya, aku online. Ah udah schedulenya kali ntu mah, gak usah diomongin lagi. Tapi online kali ini terasa cukup istimewa cz….
Saat aku lagi online, aku liat si Jaya juga ternyata sama. Karena aku pingin berbagi cerita sama orang lain tentang pengalaman aku keetemu orang culun, saat itu juga aku cerita ke si Jaya, tentunya lewat facebook.
Sisilia Putri Lie > Jaya 9oki3L bieZzZz Jay, tau gak loh? Tadi masa ada cowok culun n alay (lebih alay dri lo!) dateng ke rumah aku… ngaku-ngakunya tetangga sih. Tapi ah bodo amat punya tetangga culun kayak gitu. Mana dia minjem buku aku lagi.
Jaya 9oki3L bieZzZz > Sisilia Putri Lie WiwiWh, mAcca? jHah, kMuu teGaa bnGetz sii, maZha bLank jAiia aLayz,,ni 2 9aHoL, tW!?
.
.
Eitzz, tUnddu,, jaNann gtU dLuw . ntArr Kmuph mLah jDi naksiRR loCh !!
Sisilia Putri Lie > Jaya 9oki3L bieZzZz Hik, mending aku sama monyet garut dah daripada sama yang begonoan...
Jaya 9oki3L bieZzZz > Sisilia Putri Lie amHa guW m0?
Eiiitzz, kTemuan nYok, siL ??
Sisilia Putri Lie > Jaya 9oki3L bieZzZz Sudlo?
Ayo” aja sih kalo aku. Sembari ingin minjem mp3 india terbaru punya kamu! Hehe. 8uLeH kanD??
(Looh, kok aku jadi ikut-ikutan alay!)
Jaya 9oki3L bieZzZz > Sisilia Putri Lie boL..b0Leh2 zHa tuW kaLow dPinjeMph ma kMu maKh. mWu kPhan kTemu.nHa? beCok yuPz? kMu Lbur kaNnd??
Sisilia Putri Lie > Jaya 9oki3L bieZzZz Iya deh iya. Okedeh oke. Gimana kalo ketemunya di BSM? Di J’CO ya, kutunggu..
Jaya 9oki3L bieZzZz > Sisilia Putri Lie Ok :) V, maPh eA kLo jAm kAret, cz Akk bAnTu mMa mEtik-iN bUntut ToGe dLu bWt bKinn geHHu!
Gak sempet aku bales lagi. Aku tidur. ZzZzZzZzZzZzZzZzZzZ…………
J J J
Welcome, hari yang ditunggu telah tiba, 15 Mei. Tak ada gading yang tak retak, sungguh. Hari dimana yang kuanggap hari special, karena bisa dipinjemin mp3 india (bukan karena ngedate?). Hari itu, tepat banget pas aku mau pergi, ada yang ketok-ketok pintu. Eh dia, si cowok culun lagi. Dia mau ngembaliin buku yang waktu itu dia pinjem. Lebih lagi, Rifki lama banget nih namunya, betah kali ya stay di istanaku. Karena kelamaan, hingga akhirnya aku mutusin tuk ngusir Rifki cz aku gak mau telat ketemu si Jaya (gak mau telat ketemu atau takut gak dipinjemin mp3 india?)
“Rif, sorry nih. Aku mau pergi. Aku dah ada janji ketemuan sama cowok. Kayaknya lo dateng disaat yang gak tepat deh. Aku gak bermaksud ngusir loh..” sepetku sambil make sepatu cats ijo berharap si Rifki pulang (mengusih secara halus looo..)
Rifki ternyata gak mau kalah.
“Eh, sorry juga, Cia. Siapa juga yang mau lama-lama disini. Rifki juga mau ketemuan sama cewek, bleeee :p”
“Idiiih, sombongnya. Cowok setampan tutup panci kayak kamu bisa ketemuan ma cewek aja congkaknya dah kayak abis menang kejuaraan angkat aspal aja!”
“Lagian siapa bilang cowok sejelek aku ini gak bisa naklukin cewek. Lu aja yang kayak gagang katel, bleeeee!”
“Lu yang kayak tukang peuyeum……..!”
“Lu yang kayak gajah ngamuk…! Hahay! Dadaaah raja singaaa…!”
BRAAAAK!!! Si Rifki dobrak pintu rumah aku. Kurang ajar tuh anak! Huh!
Aku keluar rumah. Pamit sama Bibi di dapur. Jalan ke depan gerbang kompleks, dan… NAIK ANGKOT.
“Lu lagi? SARAP!” ucap aku reflex ditambah dengan kagetnya.
Ternyata di dalem angkot yang aku tumpakin itu ada si Rifkinya. Hari ini hari Rifki sedunia, ya?
“Situ mau ngedate dimana, Cia??”
“Bukan urusan kamu, Ki!”
Aku setting muka sinis, jutek n asem ma dia. Sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan, suasana angkot kayak kuburan. Terus yang paling asem itu masa ada penumpang yang ngira si culun itu pacar aku.
“Dek, suruh pacarnya duduk di dalem noh. Ndak mau jatoh kan?”
Pacar? Emang cocok ya, Bu? Hiiiii, merinding.
“KIRI!” ucap aku n Rifki ‘barengan’. Tanda kutip tuh, BARENGAN!
Aku gak tau kenapa kalau dia turunnya bareng ma aku di depan BSM. Masa orang culun tau BSM? -,-
Aku jalan masuk pintu utama BSM. Berharap si Rifki gak ngikutin (GR banget!). sempet dateng pikiran busuk di kepala aku.
“Jangan-jangan Rifki itu si Jaya? Ah, pokoknya jangan sampe orang yang aku maksud itu si culun.. Iiiiiih!”
Sesuai janji aku ma Jaya, aku duduk deh di salah satu bangku di CafĂ© J’CO (ceileeeh, belaga kaya banget!). Lantas aku SMS tuh si Jaya.
To : Jaya alay – Facebook
Jay, aku dah di J’co nih, kursi paling pojok. Pake baju kotak-kotak peach. Ditunggu :) cepet..!
Dut dut dut – dut dut dut…. (suara getaran HP aku, hehe)
From : Jaya alay - Facebook
Ok.
Satu menit, dua menit, belum ada tanda-tanda si Jaya bakalan dateng. Jadi kayak lagu BCL deh; sedetik menunggumu disini seperti seharian, berkali kulihat jam di tangan demi mengulur waktu, tak kulihat tanda kehadiranmu yang semakin meyakiniku, kau tak datang.. Loh kok malah nyanyi? Back to Jaya. Dari situ aku yakin, kalau Rifki tuh bukan Jaya. Why? Cz kalau Jaya itu si Rifki, sekarang pasti dia udah nemuin aku.
“DOOOOR!!!! Sisil?”
Ada seorang yang ngagetin aku dari belakang. Do you know? Itu Rifki! Mataku langsung melotot, gigiku nyengir, mulut aku mangap, n idung aku serasa mau terbang-kembang kempis gitu deh. Bayangin betapa jeleknya muka seorang Sisilia Putri Lie waktu itu. Lebih buruk rupa dari dodol gosong kali ya.
“Lo Jaya? Lo Jaya facebook?”
“Kamu Sisil? Sisilia?”
“Iya, aku Sisilia. Lo bukan Jaya, kan?”
“Aku Jaya, kok. RIFKI WIJAYA OHO-OHO… Lo kan Cia, nyet!”
“Iya Cia ntu panggilanku. Nama asliku ya Sisilia Putri Lie, nyit!”
“Jadi selama ini…..”
“APA? Hiiiiihhhh….!!!”
Aku n Jaya alias Rifki culun itu saling sindir. Semua orang disini pada ngeliatin kita. Buseeet! Malu, malu deh, daripada aku disangka cewek tukang peuyeum.
Tanpa aku suruh, si Rifki duduk di depan bangku tempat aku duduk.
“Palalu peang, nyit! Ngapain duduk?!”
“Kan kita mau ketemuan, Cia…! Hm, terus kamu jadi kan mau minjem mp3 aku? Hehe” si Rifki mulai genit.
Aku gak ngejawab omongan dia. Hiek, dengerinnya juga males. Dalam keramaian J’CO aku berdoa.
“Ya Tuhan, semoga aku lagi mimpii………!!!!!”
“Udah kok, Mam.. Cia dah beberengkes semua barang-barang Cia” jawabku mantap.
Rencananya kita mau pindah karena rumahku yang ini lokasinya agak jauh dari sekolah yang mau aku tempati nanti. Maklum aku kan baru saja kemarin dapat kabar gembira kalau aku diterima di Sekolah Menengah Atas yang aku mau. Sebenarnya aku juga agak ngotot sih ke Mama Papa buat acara pindah rumah ini, karena awalnya Mam Dad gak ngijinin aku buat sekolah disana. Tapi kalau pada akhirnya kita gak pindah, masa aja aku tiap hari bulak-balik Jakarta-Bandung hanya buat sekolah? Hahaha. Aku memutuskan memilih sekolah di Bandung cz katanya sih sekolah di Bandung bagus. Sepupu aku aja yang dulu sekolah di Bandung sekarang jadi sukses. Siapa tahu aku bisa ngikutin jejaknya. Hihihiw.
J J J
Heloooo? Siapa yang gak tahu? Hari gini tuh lagi ngetrendnya jejaring social facebook. Lagi naik daun lah facebook! N aku, seorang Sisilia Putri Lie, punya hobby banget yang namanya update status dan maen wtw-an (wall-to-wall) sama temen-temen. Pokoknya setiap hari setiap jam aku gak pernah ketinggalan buat nongkrong depan layar. Boh layar kompie, boh layar HP. Banyak testimony asem dari temen-temen maupun keluarga, dari mulai Mama, Papa, Kak Dido atau si Ade Achi sekalipun.
“Si Cia nih, maen facebook-an terus, ati-ati loh jadi korban kopi darat BARU TAU RASA!”
“Husss!”
“Anak Mama kayak orang udik baru tau facebook aja!”
“Kalo kamu terus yang nge-net, kaka kapan dong? banyak tugas nih!”
“Kakak, ntu apasih? Facebook ya? Mau dong ka bikinin Achi. Kalau udah anterin ke kamar ya! Biar besok Achi bawa ke sekolah…”
Haaa, dasar bocah tengil!
Selain ngomel-ngomel terus ke aku, ternyata adik dan kakakku juga laporan sama Mama tentang kelakuan pemalesan yang aku lakonin. Gak jarang aku harus merogoh kocek dalam (kayak shopping ajeh..) hanya sekedar tuk jadi selotip mulut mereka, biar gak comel ke Mama ataupun Papa. Hehe. Tapi lama-lama metode tutup mulut itu udah gak jaman lagi semenjak Kak Dido mengecap bangku kuliah. Ya…namanya juga kuliah, alesan banyak tugas lah, ini lah, itu lah, skripsi lah (padahal sidangnya masih seabad lagi). Hingga akhirnya, semenjak saat itu, Mama lebih memperketat aktivitas nge-net aku, dan aku hanya diijinkan nge-net hari Sabtu dan Minggu DOANG! Huh. Asin.
J J J
Rumah baruku. Oooh, rumah baruku. Peraturan nge-net Sabtu-Minggu itu gak jaman lagi. Disini, rumah baru GITU LOOOCH!!! Sekolah baru pula. Berhubung sekolah yang aku masuki ini terbilang cukup papan atas, Mama ingin ngasih something nih untuk keberhasilanku kali ini J. Aku tentunya gak mau nyia-nyiain kesempatan emas ini. mama bilang aku boleh minta apa aja. Setelah pikir panjang dan bersemedi (hoooooooo!), pada akhirnya aku memutuskan untuk minta pasang modem buat kompie pribadiku. Karena Mama udah janji, jadi skak mat deh buat Mama! Hahaha! (ketawa licik)
Aku agak ngerasa beda sama rumah baruku yang sekarang ini. Dulu kan aku tinggalnya di pemukiman warga gitu (yaiyalah, masa pemukiman satwa). Tapi, sekarang aku tinggal di tempat yang sedikit bergengsi (cieeeh!). ya, di perumahan alias kompeuleks dina basa Sunda mah. Aku harus pinter-pinter adaptasi nih kayaknya. Lebe!
“Mam, kenapa sih kita pindah ke tempat kayak beginian? Cia kan jadi gak bisa akrab ma tetangga kayak waktu dulu….” protes aku.
“Alaaaah...banyak protes kamu! Akrab sih akrab tapi Mama malu kalo kamu salah ngambil jemuran. Jemuran tetangga digaet juga, apalagi ni underwear. Malu kan Mama…”
Ngek-ngok..! Emang sih kalo yang satu ini emang penyakit aku. Hehe. Suuut ah! Aku kan jadi malu. Hiekhiek.
Seminggu, dua minggu, aku dah mulai bisa terbiasa dengan betah tinggal di perumahan. Lha iya, gimana enggak? Wong sekarang betah terus nongkrong depan kompie. Tapi aku belum bisa ngenal-ngenal deket ma para tetangga sekitar. Kuper lo, Cia! Karena kesibukan bertetangga di sekitar rumah gak aku geluti kayak waktu dulu, sekarang aku malah jadi eksis, narsis dan gahol abis di dunia maya –khususnya di jejaring social facebook. Sekarang aku jadi lebih banyak kenalan dan minta kenalan (hehe), sama orang-orang facebook. Iseng geeeeeela!
Tapi kawan-kawan, jangan salah. Dari situ aku jadi punya banyak kenalan. Dari mulai kalangan anak masih ingusan, sampe tante-tante atau om-om? Ada! Ibu-ibu or Bapa-bapa? Available! Dari mulai cewe, cowo, LENGKAP! Dari yang sekolahnya SD sampe yang nganggur, dari tukang becak sampe tukang anggur! Eh, salah ya.. Aaaah pokoknya komplit deh! Lebih komplit dari jamu pegel linu yang suka diminum sama Ibunya si penulis (looh, kok jadi gak nyambung?)
Balik ke facebook. Sama halnya seperti cowok kenalanku yang satu ini. Jaya, begitulah nama panggilannya. Aku tidak tahu nama asli si bocah kampung ini cz di facebook, dia pake nama samaran, alay pula. Asem! “Jaya 9oki3L bieZzZz”. Ih, jijik! (Tapi jijik-jijik masih diladenin juga). Katanya sih dia anak SMA di Bandung juga. Tapi yang jelas gak sesekolah ma aku. Yaeyalah, kalo sesekolah mah gak mungkin aku harus kenalan lagi sama dia. Setiap kali aku menanyakan nama aslinya, dia gak mau ngasih tau, coy! Katanya sih terlalu gokil. Huek!
“AcH, Udda Lakh, SieL! panggiL aJz akk Jaiia. App rBet.a sEe?! naMa asLikuu 2 tLaluu 9oKiL, U knoW??” komentar Jaya yang dia post di wall aku.
Selain pake nama yang alay itu, dia juga gak pasang foto asli dia! Jaaa, dia malah pake fotonya Dude Herlino di profilenya. Huek! Dia pernah sih ngirim foto aslinya ke email aku. Tapi percuma, gan! Dia difoto dari jarang kurang lebih sepuluh meter diatas permukaan laut dengan pose tutup muka dan berbalik badan pula, parah! Tapi itulah yang ngebuat aku jadi penasaran sebenernya Jaya itu seperti apa sih…??? Ditambah lagi kita tuh sama-sama suka apa-apa yang berbau India. Jadi kita makin kesini makin nyambung.
J J J
Di sore menuju malem yang cerah ini, tumben ada tamu yang ketok-ketok marmer. Eh, ketok-ketok pintu maksudnya.
“Assalamualaikum, assalamualaikum, assalamualaikum…!!!”
“Iya tunggu seben….”
Kata-kata aku terputus ketika membuka pintu dan ngeliat makhluk asing berdiri depan pintu.
“Cia, ini teh Cia? Cia kenalin nama saya Rifki, tetangga kamu. Tuh rumahnya!” ucap cowok culun itu sembari menyalami tanganku dan menunjuk sebuah rumah berpagar tinggi tepat di seberang rumah.
Aku segera melepas dan menjatuhkan tanganku dari genggaman tangannya.
“Ada apa ya?” tanyaku dengan sok memamerkan wajah heran.
“Emmmh, gini Cia. Eh, punten ya kalau Rifki teh mengganggu sore Cia yang indah, ganggu waktu bersantai Cia. Tapi Rifki harap Cia gak ngerasa keganggu deh sama Rifki…blablablablablablablablaaa~~” perkataannya melebihi cerewet burung beo.
“IYA! Daripada waktu nyanteiku abis karena dengerin kamu konser, so to the point is better deh!”
“Minta uang koin? Bukan, Rifki mah bukan mau minta uang koin. Gini ya, Rifki teh mau minjem buku astronomi sekolah kamu. Boleh gak, Cia?”
“Emmm. Bo, boleh boleh.. tunggu bentar. JANGAN MASUK!”
Aku segera lari ke kamar tanpa nyuruh si Rifki culun itu untuk menginjak istana aku. Gak lama kemudian, aku muncul dari kamar dan nemuin Rifki sembari ngasih tu orderan (kayak rumah makan aja).
“Pantesan semalem aku mimpi keselek sandal cepit sebelah, nyatanya mau ketemu bocah culun kayak dia. Hieeeh!” aku merinding, bulu kudukku berdiri.
Malemnya, aku online. Ah udah schedulenya kali ntu mah, gak usah diomongin lagi. Tapi online kali ini terasa cukup istimewa cz….
Saat aku lagi online, aku liat si Jaya juga ternyata sama. Karena aku pingin berbagi cerita sama orang lain tentang pengalaman aku keetemu orang culun, saat itu juga aku cerita ke si Jaya, tentunya lewat facebook.
Sisilia Putri Lie > Jaya 9oki3L bieZzZz Jay, tau gak loh? Tadi masa ada cowok culun n alay (lebih alay dri lo!) dateng ke rumah aku… ngaku-ngakunya tetangga sih. Tapi ah bodo amat punya tetangga culun kayak gitu. Mana dia minjem buku aku lagi.
Jaya 9oki3L bieZzZz > Sisilia Putri Lie WiwiWh, mAcca? jHah, kMuu teGaa bnGetz sii, maZha bLank jAiia aLayz,,ni 2 9aHoL, tW!?
.
.
Eitzz, tUnddu,, jaNann gtU dLuw . ntArr Kmuph mLah jDi naksiRR loCh !!
Sisilia Putri Lie > Jaya 9oki3L bieZzZz Hik, mending aku sama monyet garut dah daripada sama yang begonoan...
Jaya 9oki3L bieZzZz > Sisilia Putri Lie amHa guW m0?
Eiiitzz, kTemuan nYok, siL ??
Sisilia Putri Lie > Jaya 9oki3L bieZzZz Sudlo?
Ayo” aja sih kalo aku. Sembari ingin minjem mp3 india terbaru punya kamu! Hehe. 8uLeH kanD??
(Looh, kok aku jadi ikut-ikutan alay!)
Jaya 9oki3L bieZzZz > Sisilia Putri Lie boL..b0Leh2 zHa tuW kaLow dPinjeMph ma kMu maKh. mWu kPhan kTemu.nHa? beCok yuPz? kMu Lbur kaNnd??
Sisilia Putri Lie > Jaya 9oki3L bieZzZz Iya deh iya. Okedeh oke. Gimana kalo ketemunya di BSM? Di J’CO ya, kutunggu..
Jaya 9oki3L bieZzZz > Sisilia Putri Lie Ok :) V, maPh eA kLo jAm kAret, cz Akk bAnTu mMa mEtik-iN bUntut ToGe dLu bWt bKinn geHHu!
Gak sempet aku bales lagi. Aku tidur. ZzZzZzZzZzZzZzZzZzZ…………
J J J
Welcome, hari yang ditunggu telah tiba, 15 Mei. Tak ada gading yang tak retak, sungguh. Hari dimana yang kuanggap hari special, karena bisa dipinjemin mp3 india (bukan karena ngedate?). Hari itu, tepat banget pas aku mau pergi, ada yang ketok-ketok pintu. Eh dia, si cowok culun lagi. Dia mau ngembaliin buku yang waktu itu dia pinjem. Lebih lagi, Rifki lama banget nih namunya, betah kali ya stay di istanaku. Karena kelamaan, hingga akhirnya aku mutusin tuk ngusir Rifki cz aku gak mau telat ketemu si Jaya (gak mau telat ketemu atau takut gak dipinjemin mp3 india?)
“Rif, sorry nih. Aku mau pergi. Aku dah ada janji ketemuan sama cowok. Kayaknya lo dateng disaat yang gak tepat deh. Aku gak bermaksud ngusir loh..” sepetku sambil make sepatu cats ijo berharap si Rifki pulang (mengusih secara halus looo..)
Rifki ternyata gak mau kalah.
“Eh, sorry juga, Cia. Siapa juga yang mau lama-lama disini. Rifki juga mau ketemuan sama cewek, bleeee :p”
“Idiiih, sombongnya. Cowok setampan tutup panci kayak kamu bisa ketemuan ma cewek aja congkaknya dah kayak abis menang kejuaraan angkat aspal aja!”
“Lagian siapa bilang cowok sejelek aku ini gak bisa naklukin cewek. Lu aja yang kayak gagang katel, bleeeee!”
“Lu yang kayak tukang peuyeum……..!”
“Lu yang kayak gajah ngamuk…! Hahay! Dadaaah raja singaaa…!”
BRAAAAK!!! Si Rifki dobrak pintu rumah aku. Kurang ajar tuh anak! Huh!
Aku keluar rumah. Pamit sama Bibi di dapur. Jalan ke depan gerbang kompleks, dan… NAIK ANGKOT.
“Lu lagi? SARAP!” ucap aku reflex ditambah dengan kagetnya.
Ternyata di dalem angkot yang aku tumpakin itu ada si Rifkinya. Hari ini hari Rifki sedunia, ya?
“Situ mau ngedate dimana, Cia??”
“Bukan urusan kamu, Ki!”
Aku setting muka sinis, jutek n asem ma dia. Sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan, suasana angkot kayak kuburan. Terus yang paling asem itu masa ada penumpang yang ngira si culun itu pacar aku.
“Dek, suruh pacarnya duduk di dalem noh. Ndak mau jatoh kan?”
Pacar? Emang cocok ya, Bu? Hiiiii, merinding.
“KIRI!” ucap aku n Rifki ‘barengan’. Tanda kutip tuh, BARENGAN!
Aku gak tau kenapa kalau dia turunnya bareng ma aku di depan BSM. Masa orang culun tau BSM? -,-
Aku jalan masuk pintu utama BSM. Berharap si Rifki gak ngikutin (GR banget!). sempet dateng pikiran busuk di kepala aku.
“Jangan-jangan Rifki itu si Jaya? Ah, pokoknya jangan sampe orang yang aku maksud itu si culun.. Iiiiiih!”
Sesuai janji aku ma Jaya, aku duduk deh di salah satu bangku di CafĂ© J’CO (ceileeeh, belaga kaya banget!). Lantas aku SMS tuh si Jaya.
To : Jaya alay – Facebook
Jay, aku dah di J’co nih, kursi paling pojok. Pake baju kotak-kotak peach. Ditunggu :) cepet..!
Dut dut dut – dut dut dut…. (suara getaran HP aku, hehe)
From : Jaya alay - Facebook
Ok.
Satu menit, dua menit, belum ada tanda-tanda si Jaya bakalan dateng. Jadi kayak lagu BCL deh; sedetik menunggumu disini seperti seharian, berkali kulihat jam di tangan demi mengulur waktu, tak kulihat tanda kehadiranmu yang semakin meyakiniku, kau tak datang.. Loh kok malah nyanyi? Back to Jaya. Dari situ aku yakin, kalau Rifki tuh bukan Jaya. Why? Cz kalau Jaya itu si Rifki, sekarang pasti dia udah nemuin aku.
“DOOOOR!!!! Sisil?”
Ada seorang yang ngagetin aku dari belakang. Do you know? Itu Rifki! Mataku langsung melotot, gigiku nyengir, mulut aku mangap, n idung aku serasa mau terbang-kembang kempis gitu deh. Bayangin betapa jeleknya muka seorang Sisilia Putri Lie waktu itu. Lebih buruk rupa dari dodol gosong kali ya.
“Lo Jaya? Lo Jaya facebook?”
“Kamu Sisil? Sisilia?”
“Iya, aku Sisilia. Lo bukan Jaya, kan?”
“Aku Jaya, kok. RIFKI WIJAYA OHO-OHO… Lo kan Cia, nyet!”
“Iya Cia ntu panggilanku. Nama asliku ya Sisilia Putri Lie, nyit!”
“Jadi selama ini…..”
“APA? Hiiiiihhhh….!!!”
Aku n Jaya alias Rifki culun itu saling sindir. Semua orang disini pada ngeliatin kita. Buseeet! Malu, malu deh, daripada aku disangka cewek tukang peuyeum.
Tanpa aku suruh, si Rifki duduk di depan bangku tempat aku duduk.
“Palalu peang, nyit! Ngapain duduk?!”
“Kan kita mau ketemuan, Cia…! Hm, terus kamu jadi kan mau minjem mp3 aku? Hehe” si Rifki mulai genit.
Aku gak ngejawab omongan dia. Hiek, dengerinnya juga males. Dalam keramaian J’CO aku berdoa.
“Ya Tuhan, semoga aku lagi mimpii………!!!!!”
TOP 1 Gelar Journey Riding Experince
Untuk kedua kalinya, produsen pelumas sepeda motor TOP 1 kembali menerima tantangan pengguna oli sepeda motor di Indonesia untuk pengetesan oli. Tes oli TOP 1 bertajuk "TOP 1 Journey Riding Experince" ini akan dimulai sejak 1 Agustus hingga 5 Desember mendatang.
Pada Rabu, 28 Juli 2010 bertempat di bengkel modifikasi F-16, di kawasan Ciledug, Tangerang dilakukan pengisian oli TOP 1 untuk pertama kalinya.
Karena sepeda motor yang digunakan adalah berjenis automatic, maka oli yang pakai adalah TOP 1 Action Matic 10W-30 untuk Honda BeAT dan 20W-40 untuk Yamaha Mio, serta oli gear box, TOP 1 Action Matic Gear Oil 80W-90.
"Tema kali ini lebih kepada riding experince, maka kita ajak rekan-rekan perwakilan klub sepeda motor untuk ikut membuktikan performa oli TOP 1," kata Derrick Surya, Brand Manager PT Topindo Atlas Asia, pemegang merek oli TOP 1 di Indonesia.
Selain melibatkan 12 klub sebagai tester, pada pembuktian kedua ini, oli TOP 1 akan diuji dengan metode yang lebih ekstreem dan pengukuran kualitas yang lebih presisi.
Bila tahun lalu pengetesan oli hanya dilakukan untuk jarak 3000 kilometer saja. Kini di perpanjang hingga 7500 kilometer. "Hal ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan konsumen tentang kualitas oli TOP-1 jika dipakai dalam jangka panjang," jelas Agus Sulistriyono, Team Leader Automotive Digital Media.
Pada perjalannya, 12 perwakilan klub sepeda motor ini akan bergantian menjajal dua sepeda motor yaitu, Honda BeAT dan Yamaha Mio. Masing-masing klub diberi waktu dua minggu untuk menempuh jarak hingga 625 kilometer.
"Setiap 2500 kilometer kita akan ganti oli, dan sampel oli yang sudah dipakai akan dites di dua laboratorium independent. Yaitu Corelab dan Petrolab. Tahun lalu hanya satu laboratorium, tapi tahun ini ada dua agar datanya lebih valid," lanjut Akmeliani, Brand Activation Supervisor, PT Topindo Atlas Asia.
Bukan hanya dilakukan pengetesan di laboratorium independen. Setelah dua sepeda motor ini mencapai jarak 7500 kilometer, mesin keduanya akan dibongkar dan dilihat apakah ada kerusakan di tiap detail komponennya. Mulai dari kruk as, piston, camshaft, rocker arm, hingga gear box.
“Bongkar mesin ini akan kita lakukan bersamaan dengan penutupan pengetesan ini di sebuah Villa di Puncak, Bogor. Selain penutupan, kita juga akan touring dan having fun bersama semua tester dan rekan-rekan klub lainnya,” jelas Derrick Surya.
Daftar klub yang berpartisipasi
- Honda BeAT Club (HBC) Jakarta
- Jakarta Mio Club (JMC)
- Honda Revo Club (HRC)
- Jakarta Satria Club (JSC)
- Kings Club Djakarta (KCDJ)
- Honda Supra Jakarta (HSJ)
- Jakarta Jupiter Club (JJC)
- New Shogun Club (NSC)
- Mio Club Depok (MCD)
- Honda Vario Club (HVC)
- Honda BeAT Club (HBC) Bekasi
- Otonetters Motor Rider (OMR)
Pada Rabu, 28 Juli 2010 bertempat di bengkel modifikasi F-16, di kawasan Ciledug, Tangerang dilakukan pengisian oli TOP 1 untuk pertama kalinya.
Karena sepeda motor yang digunakan adalah berjenis automatic, maka oli yang pakai adalah TOP 1 Action Matic 10W-30 untuk Honda BeAT dan 20W-40 untuk Yamaha Mio, serta oli gear box, TOP 1 Action Matic Gear Oil 80W-90.
"Tema kali ini lebih kepada riding experince, maka kita ajak rekan-rekan perwakilan klub sepeda motor untuk ikut membuktikan performa oli TOP 1," kata Derrick Surya, Brand Manager PT Topindo Atlas Asia, pemegang merek oli TOP 1 di Indonesia.
Selain melibatkan 12 klub sebagai tester, pada pembuktian kedua ini, oli TOP 1 akan diuji dengan metode yang lebih ekstreem dan pengukuran kualitas yang lebih presisi.
Bila tahun lalu pengetesan oli hanya dilakukan untuk jarak 3000 kilometer saja. Kini di perpanjang hingga 7500 kilometer. "Hal ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan konsumen tentang kualitas oli TOP-1 jika dipakai dalam jangka panjang," jelas Agus Sulistriyono, Team Leader Automotive Digital Media.
Pada perjalannya, 12 perwakilan klub sepeda motor ini akan bergantian menjajal dua sepeda motor yaitu, Honda BeAT dan Yamaha Mio. Masing-masing klub diberi waktu dua minggu untuk menempuh jarak hingga 625 kilometer.
"Setiap 2500 kilometer kita akan ganti oli, dan sampel oli yang sudah dipakai akan dites di dua laboratorium independent. Yaitu Corelab dan Petrolab. Tahun lalu hanya satu laboratorium, tapi tahun ini ada dua agar datanya lebih valid," lanjut Akmeliani, Brand Activation Supervisor, PT Topindo Atlas Asia.
Bukan hanya dilakukan pengetesan di laboratorium independen. Setelah dua sepeda motor ini mencapai jarak 7500 kilometer, mesin keduanya akan dibongkar dan dilihat apakah ada kerusakan di tiap detail komponennya. Mulai dari kruk as, piston, camshaft, rocker arm, hingga gear box.
“Bongkar mesin ini akan kita lakukan bersamaan dengan penutupan pengetesan ini di sebuah Villa di Puncak, Bogor. Selain penutupan, kita juga akan touring dan having fun bersama semua tester dan rekan-rekan klub lainnya,” jelas Derrick Surya.
Daftar klub yang berpartisipasi
- Honda BeAT Club (HBC) Jakarta
- Jakarta Mio Club (JMC)
- Honda Revo Club (HRC)
- Jakarta Satria Club (JSC)
- Kings Club Djakarta (KCDJ)
- Honda Supra Jakarta (HSJ)
- Jakarta Jupiter Club (JJC)
- New Shogun Club (NSC)
- Mio Club Depok (MCD)
- Honda Vario Club (HVC)
- Honda BeAT Club (HBC) Bekasi
- Otonetters Motor Rider (OMR)
Langganan:
Postingan (Atom)