Sebuah suara samar mengusik tidur wanita itu. Menerobos halus celah gendang telinga, dan perlahan membawanya dari alam mimpi menuju keterjagaan raga. Namun matanya masih terpejam dalam kantuk yang masih menggelayut dalam. Tak ingin ia hirau akan suara yang masih samar terdengar. Tapi sekian detik kemudian suara itu semakin terang dalam keterjagaan telinganya sekarang.
“Tsabita.. Tsabita..”
Tiba-tiba saja matanya mengerjap terjaga dengan begitu cepatnya. Kantuk yang mengikatnya dalam lelapnya mimpi, bertolak kilat meninggalkannya. Salah dengarkah ia? Mimpikah? Sambil mencubit tangannya,
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Selasa, 29 Maret 2011
Jumat, 18 Maret 2011
::: Surat untuk Ayah :::
Ayah tercinta,
Aku menulis surat ini dengan perasaan sedih dan sangat menyesal. Saat ayah membaca surat ini, aku telah pergi meninggalkan rumah. Aku pergi bersama kekasihku, dia cowok yang baik, setelah bertemu dia.. ayah juga pasti akan setuju meski dengan tatto-tatto dan piercing yang melekat ditubuhnya, juga dengan motor bututnya serta rambut gondrongnya. Dia sudah cukup dewasa meskipun belum begitu tua (Aku pikir jaman sekarang 42 tahun tidaklah terlalu tua). Dia sangat baik terhadapku, lebih lagi dia ayah dari anak di kandunganku saat ini. Dia memintaku untuk membiarkan anak ini lahir dan kita akan membesarkannya bersama.
Kami akan tinggal berpindah-pindah, dia punya bisnis perdagangan ekstasi yang sangat luas, dia juga telah meyakinkanku bahwa marijuana itu tidak begitu buruk. Kami akan tinggal bersama sampai maut memisahkan kami. Para ahli pengobatan pasti akan menemukan obat untuk AIDS jadi dia bisa segera sembuh. Aku tahu dia juga punya cewek lain tapi aku percaya dia akan setia padaku dengan cara yang berbeda.
Ayah.. jangan khawatirkan keadaanku. Aku sudah 15 tahun sekarang, aku bisa menjaga diriku. Salam sayang untuk kalian semua. Oh iya, berikan bonekaku untuk adik, dia sangat menginginkannya.
Masih dengan perasaan terguncang dan tangan gemetaran, sang ayah membaca lembar kedua surat dari putri tercintanya itu…
PS : Ayah, .. tidak ada satupun dari yang aku tulis diatas itu benar, aku hanya ingin menunjukkan ada ribuan hal yg lebih mengerikan daripada nilai Rapotku yg buruk. Kalau ayah sudah menandatangani rapotku diatas meja, panggil aku ya…Aku tidak kemana-mana. Saat ini aku ada di tetangga sebelah.
Senin, 10 Januari 2011
::: Naklukin hati sang Mamah :::
" waduh.. gawat.. kesiangan ni w ". sambil ngliat jam tangan yang sedari malam ternyata ga di lepas juga. hhmmm.. ya inilah si mimii yang sedikit teledor. kata temen-temennya siih ada yang bilang klo dya itu sedikit manja.. cuek. tapi... bae juga siih :)
kali ini bukan telat karena masuk kerja.. tapi dya emang udah ada janji sama temen-temennya. walaupun sebenernya hari ini juga si mamah dateng tapi tak apalah.. sedikit di rayu juga bakal ngizinin, walau dengan pasang muka memelas. setelah bersiap kini saatnya ngadepin sii mamah yang sedari tadi duduk nunggu sii anak gadisnya dari kamar. xixixiii.. dengan muka sante namun berharap bisa kluar dari rumah aats izinnya. akhirnya tegoran kluar dari mulut si mamah." mau kemana pagi-pagi gini ??" mau maen mah sama temen.. "kemana" ke ancol.. ujarku.. lah mamah baru dateng kok udah mau ditinggal gimana sih ? ujar sii mamah. " lah kan mimi udah janji mah.. lagiian mereka udah di jalan ga enak kalo di batalin.. masa mimii yang minta terus mimi yang batalin sendiri sih ?? ga enak akh mah.. gerutu si mimi tak lupa pasang muka memelasnya itu. ga mau..." pokoknya ga boleh keluar hari ini ", lah mah... akh gaa.. pokoknya tetep mau keluar hari ini." inget mimii.. ridho orang tua ridho Allah juga " ujar si mamah sambil natep mata anaknya itu. " waduhh... gawat nii... harus pake jurus apa lagi yaa biar bisa ngyakiniin si mamah.. gerutu mimii di hatinya. mimi ga nyerah gitu aja... akhirnya dia ikut ke rumah sodaranya yang ga terlalu jauh dari rumah, ini trik satunya lagi.. ura-pura nurut aja dulu ngikutin ajakan mamahnya itu. setiba di rumah sodaranya itu beberapa menit kemudian sms di terima.. dari siapakah itu ?? tuiing.. !! ternyata dari temennya itu. " gw dah sampe didepan ni.. lo dmna ?? " waduh.. harus cepet-cepet ni ijin dengan sang bunda tersayang yang bae hati ini. :) " mah.. mimi boleh yah.. kluar kali ini ajaa.. tu anaknya udah apda dateng.. ya ya yaa.. ?? " yaudah.. tapi awas pulang jangan kesorean.. " Ok !! saiap boz !! dengan langkah terburu-buru akhirnya mimi nyemperin mereka si kriwil dan si oncom :)
mereka emang baru kali ini ngerasain jalan bertiga.dan... BERSAMBUNG
Minggu, 05 Desember 2010
::: Roman Kisah Cinta Di Pesantren :::
Kasih itu sabar, kasih itu murah hati ia tak cemburu, ia tidak menegakkan diri dan tidak sombong, ia tidak melakukan kesalahan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, ia tidak berduka cita karena ketidakadilan. Tetapi, karena kebenaran, ia tidak menutupi segalanya, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu dan sabar menanggung segala suatu apapun yang terjadi.
Kutipan di atas diambil dari sebuah film yang berjudul A Walk To Remember. Di mana film tersebut menceritakan tentang kisah seseorang dalam mencari cinta. Ngomongin cinta tidak pernah ada batasnya. Sebab cinta ada sejak manusia dilahirkan kedunia oleh Tuhan. Cinta merupakan anugerah Tuhan yang paling mulia dibandingkan yang lain. Tuhan menciptakan makhluknya dengan cinta. Karena cintalah manusia ada.
Kehadiran cinta di mata manusia tidak dapat ditolak lagi. Cinta adalah ruh manusia. Ruh yang menggerkakan manusia untuk berkehendak, berkomunikasi, bertetangga, dan bahkan berhubungan. Maka jika ruh itu hilang, manusia tidak lagi dibimbing oleh kasih sayang. Sehingga manusia tersebut hanya dirasuki oleh hasutan Syetan yakni kebencian, kesombongan, kedurhakaan dan lain-lain.
Sedangkan dengan cinta kita dapat menembus segala ruang, batas, dan kelas. Sebut saja Rabi’ah Al Adawiyah. Sosok perempuan yang tidak jauh beda dengan budak. Namun, karena cinta suci yang dimilkinya terhadap yang Maha Kuasa ia bisa melebihi yang lain.
Berbeda dengan orang-orang yang tidak memiliki rasa kasih sayang. Orang tersebut hanya diselimuti oleh rasa kebencian, kesombongan, dan kerakusan. Maka dari situlah sebenarnya terbentuknya sekat-sekat kelas, borjuis, ploretal, bahkan feodalisme. Kelas borjuis memandang kelas ploretal sebagai orang yang tak pantas untuk dikasihani atau disayangi. Karena anggapan rendah terhadap kelas ploretar tersebut yang mana kaum ploretar tidak memiliki harta yang sepadan dengan kelas borjuis. Akhirnya bukan rasa kemanusian yang tumbuh dalam hati kelompok borjuis tapi rasa kerakusan yang dijunjung tinggi oleh mereka. Sehingga terjadi ketimpangan yang menyebabkan hidup ini tidak harmonis antara orang miskin dan kaya.
Hal serupa juga digambarkan dalam buku Layla Majnun (Buku terbitan Navila). Bagaimana cinta Qais terhadap Layla tidak kesampaian karena perbedaan kelas atau kasta yang ditonjolkan oleh kelompok mereka. Cinta tulus yang datang dari kedua sejoli terhalangi oleh perbedaan kasta mereka. Sehingga keduanya tidak mendapat kebahagian dalam hidup sampai ajal menjemput keduanya. Lagi-lagi karena perbedaan, cinta tersebut tidak dapat bersatu.
Perbedaan sering kali disalahartikan oleh sebagian umat manusia. Perbedaan ternyata bukan diartikan sebagai rahmat bagi umat manusia yang dapat menumbuhkan keharmonisan dalam kehidupannya. Akan tetapi perbedaan malah menjadi malapetaka baginya. Semisal, tindakan anarkisme yang dilakukan oleh salah satu kelompok masyarakat terhadap penyerbuan kelompok Ahmadiyah di Lombok yang baru terjadi kemarin. Atau penghakiman terhadap pengikut ajaran Lia Eden di Jakarta.
Tindakan kekerasan atau terorisme di atas tidak lepas dari kontek perbedaan baik itu perbedaan yang dilatar belakangi oleh ideologi, agama, dan laia-lain. Perbedaan semestinya menjadikan kita bersatu padu membangun negara yang harmonis dan sejahtera bukan malah sebaliknya.
Kebiasaan seperti di atas didobrak oleh Shachree M. Daroini lewat novelnya yang berjudul “Love in Pesantren”. Pesantren sebagai sub kultur budaya Indonesia yang mengajarkan ilmu-ilmu tentang agama yang menjadi ciri khas pesantren. Lembaga yang juga menyimpan tradisi feodalisme yang cukup tingii dan masih kental sampai sekarang.
Lewat novelnya itu Shachree M. Daroini menceritakan sosok santri yang bernama Komarudin dengan berani telah menaruh hati terhadap puteri ustadznya yang bernama Siti. Ketulusan cinta yang datang dari keduanya membuat sistem feodalisme pesantren berdiri kokoh dengan sombong.
Kasih sayang yang datang dari seorang santri terhadap keluarga pesantren merupakan hal yang dilarang oleh hukum keluarga pesantren. Hukum itu diberlakukan demi menjaga nama besar pesantren. Sebab bila salah satu puteri Kyai menjalin hubungan cinta dengan santrinya akan menurunkan kredibilitas keluarga Kyai. Layaknya kasta Sudera berhubungan cinta dengan kasta Brahma.
Kehormatan bukan dicari, sebab kehormatan datang apabila dibarengi dengan kasih sayang kepada semua orang. Dan sebab dengan ketulusan cinta pula wajah bumi akan tersenyum bagai surgawi. Kebaikan selalu ditawarkan oleh jiwa manusia akan mengubah kehidupan jadi sekawanan lebah di penuhi madu yang manis. Jiwa manusia pun akan semakin indah dan damai jika sebuah ungakapan cinta yang indah dan tulus lahir dari lahiriah dan bathiniah untuk mencapai sang Khaliq, sang Pemilik cinta sejati, dialah Allah. Tak ada kuasa lain dari sebuah cinta kecuali milik-Nya, tak ada nafsu lain dari cinta kecuali cinta-Nya (Halm. 271).
Cinta bukanlah nafsu dan cinta bukanlah dosa yang dibebankan oleh Tuhan kepada manusia. Tapi, cinta adalah anugerah yang diberikan kepada setiap insan. Sebab tak ada ajaran mana pun yang melarang umatnya untuk saling mencintai dan menyangi. Karena cintalah umat manusia bisa hidup bersandingan dengan damai. Wallahua’lam
Rabu, 01 Desember 2010
::: Sebuah Penantian :::
Nadine baru saja selesai mengejakan Qiyamul lail. Nadine belum beranjak dari tempat sujudnya ia teingat akan sahabat maya nya yang telah tidak pernah kontak lagi beberapa tahun ini.
Nadine mempunyai seorang sahabat Maya, mereka bersahabat dalam dunia maya, mereka saling berbagi cerita dan pengalaman masing-masing.
pada bulan Ramadhan prahara itu tiba. prahara yang membuat hubungan persahabatan yang telah dibangun hancur.....Putra ya sahabat Nadine dalam dunia maya itu mengalami kekalutan, kesedihan. Pada saat itu Nadine tidak ada untuk memberikan Suport, pengertian dan semangat..Nadine tidak ada disaat Putra membutuhkan uluran tangan Nadine.
sebelum Putra menghilang Putra mengirimkan sebuah pesan singkat yang mana isinya " dimana sahabat saat sahabatnya membutuhkan uluran tangan, butuh dukungan, yang butuh perhatian....."
Nadine mengingat itu semua sebagai kealpaannya sebagai seorang sahabat, ia bukannlah seorang sahabat yang baik.
Nadine selalu merasa sedih dan teriris hatinya saat ia mengingat itu semua.
Dalam setiap shalat ia berdoa semoga ALLAH memberikan kesempatan kepada dirinya untuk memperbaiki kesalahan yang pernah ia lakukan kepada sahabatnya..Walau hanya sahabat dalam dunia maya.
Nadine yakin jika pertemuan itu akan datang, dalam hatinya yang paling dalam jika ia dan Putra akan diprtemukan oleh ALLAH. dimana ia bisa mengucapkan 'MAAF' yang selama ini hanya bisa dipendam dalam hati.
Dalam selesai shalat Nadine selalu berdo'a: " Ya ALLAH hamba yakin jika pertemuan hamba dan putra bukanlah di sengaja. Engkau yang mempertemukan kami walau hanya lewat Dunia Maya. Ya ALLAH engkau jua yang menyatukan hati kami untuk menjalin tali persaudaraan dalam bingkai persahabatan. Ya ALLAH engkau jua yang mengetahui mana yang terbaik bagi setiap hambanya. Ya ALLAH, hamba yakin jika pertemuan itu akan ada, pertemuan hamba dan Putra itu akan datang..Ya ALLAH, tuntunlah hati hamba untuk tetap meyakini takdirMu.."
::: SEBATAS MEMANDANG :::
Lika-liku kehidupan menggelintir setiap rongga-rongga dalam tubuh. Menggetarkan segala asa yang terpendam. Ku rasakan perjalanan cinta tiada akhir, telah kutemukan apa sebenarnya arti sebuah cinta sejati. Cinta mudah datang dan mudah pergi. Ku telah belajar dari pengalaman betapa pedihnya perjalanan cinta masa lalu. Kini ku tahu betapa besar sebuah pengorbanan seseorang terhadap orang yang disayanginya.
**Kutatap wajahnya namun dia berpaling dari tatapanku. Sungguh! Ada apa di balik semua ini???. Semua yang ku rasa kini bercampur menjadi satu tak beraturan. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Tidak ada sedikitpun tertanam rasa kecewa dihatiku. Namun ku maklumi apa yang sedang terjadi pada dirinya. Ku jalani hidup ini seperti air yang mengalir mengikuti deras arus menuju sebuah kebahagian abadi.
**Kau hanya tersenyum, menyejukan hati setiap orang yang melihatnya. Tanpa kau berkatapun, ku tau apa yang sebenarnya sedang pikirkan. Kini cahaya nuranimu yang akan menerangi setiap langkah-langkahku. Dan kini pun kusadari arti sebuah kesempurnaan cinta sejati. Terdapat di setiap sendi-sendi melewati rusuk-rusuk menggelintir hingga akhirnya melekat ke hati dan menyatu kemudian bersemayam untuk selama-selamanya. Pikiran rasanya melayang bebas terbang menelusuri ruang dan waktu. Tiada kesempurnaan didalam diri manusia, tapi kasih saying dan rasa cintalah yang membuat manusia itu sempurna. Tiada cinta dan kasih saying tanpa pengorbanaan. Jika dilakukan dengan hati yang tulus maka akan berbuah kebaikan dan bernilai berharga yang tiada nilainya walaupun di tukar dengan segunung emas sekalipun. namun dengan memandang dirimu hatiku sudah puas, tetapi lebih baik memiliki namun cinta tidak dapat dipaksakan. Jodoh sudah diatur oleh tuhan dan dia lebih tau mana yang terbaik buat kita. Percayalah!.
**Waktu shalat subuh telah tiba. Jam dinding di rumahku telah menunjukan pukul 5 pagi. Segera aku mengambil air wudhu lalu shalat. Sejak kelas 1 SMA aku tidak peduli akan rutinitasku sebagai seorang muslim dan aku menganggap agama itu sebagai identitas belaka. Waktu terus berjalan hati yang dulu tertutup akan hidayah kini mulai sedikit demi sedikit mulai bias menerima hidayah itu.
**Bermula dari kelas 2 SMA ku mulai aktif mengikuti majelis taqlim dan pada akhirnya akupun masuk organisasi islam yang ada disekolahku. Sejak saat itu aku lebih sering berkumpul di aula sekolah seusai pulang sekolah. Berkumpul dengan saudara sesame muslim. Ditempat itu kutemukan arti sebuah persaudaraan yang saling menolong dalam suka maupun duka. Kulihat pemandangan berbeda para perempuannya memakai jilbab yang panjang melambangkan seorang wanita yang memegang teguh pendiriannya. Lambat laun ku jajaki kehidupan ini penuh dengan teka-teki cinta yang merasuk hingga kehati.
**Kulihat seorang lelaki disekolahku tapi dia tidak sekelas dengan ku. Awalnya kutak tau namanya, tapi lama-kelamaan akhirnya ku tahu siapa namanya. Dia bernama bayu. Orangnya pendiam dan rajin beribadah. Kurasakan hal yang berbeda jika bertemu denganya jantungku terasa berdebar-debar. Namun kurasa di telah mengenalku.
Sabtu, 06 November 2010
::: Bandara Cinta :::
14 Februari, Noella duduk di Cafe La Moda di Bandara. Pesawat landing dan take off silih berganti. Lampu-lampu di runway dari kejauhan menambah indah pemandangan dari balik dinding kaca tebal cafĂ© itu. Cahaya bulan yang tak lama lagi bulat sempurna menambah syahdu suasana.Meja bertaplak putih nampak sederhana tapi ellegan. Strawberry Juice untuk Noella dan Fruit Punch untuk Aldo. Cheese cake favorite Noella dan Choccolate Waffle kesukaan Aldo. Buket cantik penuh bunga mawar kesayangan Noella.“Kenapa kau kemari Noella?”“I miss you,”“I miss you, too.”“Kau ingat hari ini hari apa?”“Hari kita jadian.”“Kau ingat tahun lalu kita merayakan nya disini.”“Hari terindah yang pernah kurasakan. Karena aku merayakannya denganmu, Sayang.”Pipi Noella terasa hangat begitu pula matanya. Seakan ada yang meggantung disudut-sudut matanya. Ia tak yakin dapat menahannya.“Sekaligus, Valentine tersedih dalam hidupku.”Bendungan itu bobol. Air mata Noella mengucur deras.“Noella, please hapus air matamu. Seharusnya kamu senang hari ini.”“Seharusnya. Tapi aku takut.”“Apa yang kau takutkan? ““Tahun lalu aku menangis karena takut kehilanganmu. Sekarang aku takut…”Aldo menatap Noella sungguh-sungguh menunggu ucapan gadis itu berikutnya, “Aku… takut menyakitimu.”Noella menggeleng, “Aldo maukah kau memaafkan aku?” pintanya dengan suara bergetar. Aldo tersenyum. “Yang harusnya terjadi pasti akan terjadi Noella tidak ada yang harus dimaafkan. Aku ingin kamu bahagia dan tersenyum lagi. Hey, mana senyum menawan itu pergi.”“Entahlah, Do semenjak kau pergi , bibir ini seolah enggan tersenyum.”u“Noella sayang, kau mulai menangis lagi. Tapi anggap saja ini tangisan terakhirmu untukku. Setelah itu kamu bisa tersenyum dan tertawa lagi. Seperti dulu. Apa yang membebani dirimu?”“Aku jatuh cinta, Do.”Aldo tertawa. “Kenapa kamu tertawa? Memangnya ada yang lucu? Aku jatuh cinta lagi. Dengan cowok lain. Kulihat dia pertama kali dari terminal kedatangan. Ia seolah – olah dijatuhkan begitu saja dihadapanku, aku ingat hari itu hari ulang tahunku. Aku heran mengapa bukan kamu yang datang, tapi cowok yang satu ini.” Percakapan itu tiba-tiba disela pengumuman pesawat Malasyia Air yang baru saja mendarat. Aldo menggenggam jemari Noella erat, sebuah ciuman lembut mendarat dipipinya yang mulus. Noella memejamkan matanya meresapi perasaannya yang membuncah, perasaan campur aduk, sedih bahagia menjadi satu.“Pergilah, temui dia.” Bisik Aldo. Senyum lebarnya menenangkan, Noella memeluk erat cowok itu seakan-akan ia tak akan bertemu dengannya lagi. Tergesa Noella berlari kecil keluar dari La Moda, nyaris ia menubruk seorang waiter. “Ma…Maaf , Mbak.” Ucapnya cepat. Waiter itu mengernyitkan dahinya, namun beberapa saat kemudian Waiter itu seperti mengenalinya sembari bergumam, “Kasihan.” Seorang rekan waiter lainnya menanyakan maksud gumamannya, Waiter itu berucap,”Itu kan gadis aneh yang suka duduk dimeja no 7, percaya ngga sih, aku sering memergokinya bicara sendiri!” oooAbey turun dari escalator ke terminal kedatangan, Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia juga heran, bisa-bisanya ia mengenakan kemeja rapi walaupun masih berjins ria. Sekotak coklat dan boneka beruang berwarna pink tak lupa dibawanya. Abey membetulkan letak kaca matanya. Ia tak sadar ia mengulangi gerakan itu untuk kesepuluh kalinya.Abey tak perduli, pokoknya hari ini ia harus balik ke Indonesia, . Mungkin ini yang dinamakan terserang virus cinta, membuat hatinya berubah warna menjadi pink. Seraut wajah manis terbayang-bayang dibenaknya. Wajah Noella. Gadis itu ditemukannya sedang duduk sendiri di La Moda. Di CafĂ© Bandara, menunggu seseorang, namun orang yang dinantinya tak datang, ia memberanikan diri berkenalan dengannya. Pertama-tama gadis itu seolah membatasi diri, lama-lama mereka bisa bercakap-cakap lebih panjang, dilanjutkan dengan telpon-telponan dan kunjungan Abey ke rumahnya. Hanya sebatas itu karena Abey harus balik ke Malaysia melajutkan studinya. Anehnya, saat mereka berjauhan Abey diserang rasa rindu pada Noella. Pada senyumnya, cara bicaranya, kemanjaannya. Abey bisa menghabiskan waktu berjam-jam menilponnya dari Malaysia.Sampai suatu ketika Abey keceplosan,”Kamu udah punya pacar belum?” Tanya Abey iseng setengah bercanda.Noella lama terdiam. Beberapa saat kemudian terdengar isak tangisnya yang makin lama makin kencang. Abey terkejut setengah mati dengan tanggapan Noella yang dianggapnya berlebihan.“Ma…maaf…kalau omongan aku membuatmu sedih.” Ralat Abey.“A…aku ngga bisa ngomong sekarang, maafkan aku…”erang Noella ditengah isaknya. Hati Abey bertanya-tanya mengapa Noella jadi begitu bersedih dengan pertanyaan isengnya itu. Abey sendiri tidak yakin, apakah ia sanggup menghadapiii kenyataan kalo Noella sudah memiliki kekasih. Siapa yang tahu kalau tidak dicoba, toh seandainya kenyataan buruk yang harus ia hadapi, ia bisa langsung balik ke Malaysia dan menenggelamkan dirinya untuk studinya. Hari ini , ia akan menumpahkan segenap rasa yang ada dihatinya untuk Noella.Noella!” seru Abey pada seorang gadis berkardigan baby pink ditengah kerumunan orang di terminal kedatangan.“Abey!” “Buatmu.”Abey menyerahkan kotak coklat dan boneka beruang ditangannya pada Noella.“Abey!...te..t erima kasih.”Noella tersentak, Abey meraih kedua jemarinya dan berucap,”Noella, sejak mengenalmu, rasanya tak ada hari tanpa memikirkanmu. Walau baru beberapa kali kita bertemu, tapi rasanya aku mengenalmu sudah bertahun-tahun. Akankah ada ruang dihatimu untukku? would you be my lover? ”pintanya seraya menatap langsung ke sepasang manik mata Noella.Tubuh Noella berguncang hebat, tak sanggup rasanya ia berdiri di atas kedua kakinya. Tak sanggup rasanya ia menatap wajah cowok itu. Begitu jauh jarak yang ditempuhnya hanya untuk menyatakan cinta“Noella, tataplah mataku tidakkah kau lihat kesungguhan disana?”Noella mengangkat kepalanya perlahan. Perasaan haru biru datang lagi menderanya. Mengapa Aldo yang selalu dekat dengannya terasa begitu jauh? Mengapa cowok ini Abey, terasa begitu dekat, begitu nyata, bahkan dapat ia sentuh. Apakah itu artinya Aldo telah mengikhlaskannya? Ataukah ia telah membiarkan hatinya disentuh hangatnya asmara kembali setelah Aldo pergi?“Jangan ingkari hatimu Noella,” jerit batin Noella ,”Aldo telah pergi dan ia tak kan kembali. Ia pergi setahun yang lalu ke Makasar, dimana kedua orang tuanya tinggal. Aldo tidak pernah sampai ataupun kembali menjumpaimu. Karena pesawat yang ditumpangii nya jatuh diatas Samudra tepat di hari jadian mereka, bahkan jasadnyapun tak pernah kau lihat lagi.”“Abey,” Noella menenggelamkan kepalanya ke dada Abey dengan suara parau ia berucap, “I will, “ Air mata mengalir deras di kedua belah matanya. Abey mengusap lembut rambut Noella terbata-bata ia berkata,”I love…you. I love you…”Waktu seolah terhenti. Udara dipenuhi gelombang-gelombang amor berwarna pink, hanya Noella dan Abey dapat meghirupnya. Waiter-waiter La Moda CafĂ© merubung kaca besar dekat terminal kedatangan. Suara-suara mereka bersahut-sahutan.“Ooo…itu tho cowok yang di tunggu gadis aneh itu..”“Ganteng banget, Chace Crawford versi Indonesia. Pantes saja gadis itu sampai tergila-gila.”“Tapi ngga sampai duduk berjam-jam disini trus ngomong sendiri kali…”“Gimana dooong, orang rindu beraaat….he….he” OooNoella dan Abey berjalan bergandengan keluar menuju lapangan parkir. Langkah Noella terasa ringan. Sesaat mueliwati La MOda CafĂ©, sekelebatan Noella melihat bayangan Aldo melambai dan tersenyum padanya. Dibandara ini cinta Noella pergi, di Bandara ini pula cinta hadir kembali . Bandara cinta. Tamat
::: OBAMA dan TUKANG BECAK :::
Paimin memarkir becaknya di samping becak Pakde Kamto.Dia masuk ke warung nasi. Nampak Pakde Kamto, kakek berusia 70 tahun, sedang duduk disana sambil menghisap rokok klobot kegemaran beliau. Paimin pun duduk mendekati Pakde Kamto. “Sudah lama Pakde? “ kata Paimin sembari dia memesan kopi ke pemilik warung.“Lumayan lama, Min…”.“Tadi saya dapet penumpang bule lho Pakde… Lumayan mbayarnya agak banyak…, jadi Pakde pesen makan apa aja biar saya yang traktir…”“Halah ra usah ,Min..simpen aja, aku masih ada uang, nanti saja kalo aku butuh juga utang ke kamu hehehe..” Pakde Kamto terkekeh memerkan gusinya yang sudah tak bergigi itu. Kakek-kakek itu kembali berkata“..ngomong-ngomong soal bule, aku jadi inget waktu aku muda dulu ketika aku masih narik becak di daerah Menteng, Min…, tahun tujuhpuluhan dulu, aku punya langganan bule, seorang ibu2, dan anaknya…” Pakde Kamto berhenti sejenak menghisap rokoknya lalu berkata lagi, “Tiap pagi aku mengantarkan mereka ke sekolah anaknya itu, Cuma sekarang aku jadi mulai mikir..”“Mikir apa to Pakde? “sahut Paimin sambil menyeruput kopinya“Lha iya, kok sekarang foto bule itu sama anaknya yang kulitnya hitam itu, sering muncul di televisi, itu lho yang jadi presiden Amerika, Barak obama…”“Hah ! gleg..guhuk huk..huk..” Paimin tebatuk-batuk tersedak kopinya“minumnya pelan-pelan Min, .. “ Pakdhe Kamto menepuk-nepuk punggung Paimin. Setelah batuknya reda Paimin menatap takjub ke arah Pakde Kamto. Dengan rasa ingin tahu yang memuncak dia bertanya“ trus…Bagaimana Pakdhe bisa ingat wajah mereka? kan hal itu sudah puluhan tahun yang lalu? ““Lha yo jelas ingat, kan aku jarang dapat penumpang bule, lagi pula aku kan sudah bilang mereka itu langgananku tiap pagi, dan mereka juga pasti ingat sama aku. Ibunya si Barry itu juga sering minta diantarkan ke pasar. Kami sering ngobrol-ngobrol sepanjang perjalanan, orangnya ramah. ....”“Wah, kalau begitu coba aja Pakde hubungi mereka, telpon atau kirim surat…”“Buat apa. Min, malu to yoo…”“Lho Pakde ini gimana, kan itu bisa merubah nasibnya Pakde. Masak sampai kakek-kakek masih mbecak. Lagipula semakin banyak si Obama itu diingatkan saat dia di Indonesia maka nanti dia akan membantu Bangsa kita ini Pakdhe..” ujar Paimin bersemangat sampai otot lehernya keluar.“Membantu bagaimana. Diingatkan Gimana, ngawur kamu itu..Lha wong si Barry itu dulu sering di olok-olok sama temen2nya.. Londo ireng..londo ireng…. gitu. Dia juga pernah diceburin beramai-ramai ke rawa-rawa. Liat aja fotonya di koran-koran waktu sama-sama temen sekelas, disitu kan nampak dia jauh dari gurunya. Aku malah khawatir si Barry itu sakit hati. Kalau diingatkan malah nanti Indonesia di Bom Atom gimana.”“Ah, Pakde Kamto ini terlalu khawatir. Pokoknya Pakde harus menghubungi si Obama. Masalahnya kapan lagi kita bisa menyumbang bagi kemajuan bangsa Indonesia”“Ya aku sih manut aja Min, trus ngirim suratnya piye?”“ Aku punya kenalan Mahasiswa. namanya Samuwel. Dia sering cerita kalau sekarang bisa ngirim surat lewat komputer…Kita minta tolong dia saja Pakde…Sekarang aja yuk pakde, biasanya Samuwel ada di kostnya kalo malam begini…”“Yo wis ayo Min…” Mereka berdua akhirnya meninggalkan warung nasi dan beriringan menggenjot becaknya ke tempat kost sang Mahasiswa Samuwel… Hari-berganti hari, pagi menjadi siang..siang menjadi petang, petang menjadi malam..tak terasa sudah seminggu sejak Pakde Kamto dan Paimin mengirim email ke Obama. Mereka bertemu lagi di warung nasi yang sama .“Min…”“iya Pakdhe…” sahut Paimin acuh tak acuh“besok kalo anakmu lahir laki2 kamu harus kasih nama PRESIDEN…”“ah Pakde ini ada-ada saja…”“lho..iya penting lho. Nanti kalo anakmu sudah besar dan bermasyarakat trus kepilih jadi ketua RT, trus ada acara sambutan ketua RT…nanti MCnya akan ngomong gini : acara selanjutnya sambutan bapak ketua RT kita , waktu dan tempat saya persilahkan kepada bapak PRESIDEN…hehehe..” Pakde Kamto tertawa kerkekeh-kekeh memamerkan gusinya yang tak bergigi itu. Paimin hanya tersenyum mendengar ucapan orangtua yang dia anggap seperti ayahnya sendiri itu“Nama itu sebuah doa, contohnya namaku, Kamto..kalo ditulis dalam bahasa Inggris Come To, makanya hidupku berpindah-pindah,,trus namamu Paimin, kalo dalam bahasa Inggris ditulis… Pa.. I mean….” Tiba-tiba dari kejauhan seorang pemuda keriting berkacamata tebal nampak tergopoh-gopoh berlarian kearah mereka. sambil berteriak-teriak heboh “Paimin…!, Pakde…! ada balasan email dari OBAMAA…!!!” Bersambung ke Obama dan Tukang becak bagian 2
Populerkan, simpan atau kirim cerpen ini :
Populerkan, simpan atau kirim cerpen ini :
::: Rindu :::
::: Catatan Airmata Mutiara Muslimah Cina :::
“Hei, anak cina, ngapain kamu datang ke masjid ini?” Begitulah sapaan teman-temanku saat aku masih kecil dulu. Hatiku begitu tersayat mendengar kat-kata itu. ”Orang cina kok mau sholat! Tempatmu bukan disini. Udah pergi aja sana!” kata mereka sambil tertawa mengejek satu sama lain. Ejekan itu terasa seperti jutaan peluru yang tak henti-hentinya menembaki dan menusuk ke dalam relung hati. Sungguh aku tak munafik bahwa aku sangat sedih dan merasa terhina karena ejekan teman-temanku itu. Tapi, aku berusaha untuk menenangkan diri, meski ego dalam jiwa ini terus bergejolak. Apa gunanya aku marah dan perang mulut dengan mereka. Jelas aku akan kalah. Mereka berjumlah lebih banyak dari aku. Sedangkan aku, aku hanya sholat di masjid ini hanya dengan satu orang sahabat baikku. Zahra namanya. Dia yang selalu membuat aku sabar. Dia yang selalu membelaku di hadapan teman-teman yang selalu nenyindirku itu. Dia sosok yang selalu melindungi dan menghibur aku di kala aku merasa menjadi anak yang terbuang dari pergaulanku saat aku kecil dulu.
Bahkan pernah suatu hari, saat aku pergi ke masjid untuk bersembahyang maghrib berjamaah bersama Zahra. Merekapun masih terus saja mengejekku. Namun saat itu, sikap mereka lebih usil dari biasanya. Saat aku dan Zahra berwudlu, mukena yang aku letakkan di dalam masjid, mereka ambil dan mereka sembunyikan entah dimana. Setelah aku berwudlu, aku masuk ke dalam masjid. Dan aku pun kaget melihat mukenaku telah raib. Namun, mukena Zahra masih ada di tempat semula. Hanya mukena milikku saja yang hilang. Aku pun berusaha mencarinya, Zahra pun akhirnya ikut membantuku mencari. Di setiap sudut di dalam masjid itu aku cari, namun hingga menjelang sholat maghrib berjamaah dimulai, mukenaku masih belum ditemukan. Aku sangat sedih dengan kejadian ini. Teman-teman yang biasa mengusiliku tiba-tiba tertawa cekikikan melihat ulahku yang kebingungan bersama zahra. Sebelumnya, aku merasa buka mereka yang melakukan semua ini. Tapi, setelah melihat gelagat dan tingkah laku mereka yang selalu menyindirku saat aku dan Zahra sedang sibuk mencari mukenaku, aku menjadi berfikir bahwa merekalah yang melakukan semua ini. Karena aku tak ada bukti bahwa mereka yang telah menjadi tersangka dalam tebakanku, aku pun mengurungkan niat, untuk marah dan meminta mereka untuk mengembalikan mukena yang telah mereka sembunyikan. Aku sudah hampir meneteskan airmata. Namun, Zahra yang tak henti-hentinya menghiburku, aku merasa beruntung. Aku merasa Allah sangat sayang pada dirku, kerena telah mengirimkan seorang sahabat yang selalu ada di sampingku di saat aku merasa sangat tak berdaya mengahadapi cobaan hidup yang begitu berat bagi gadis kecil seusiaku saat itu. Terima kasih Zahra, engkau memang bidadari malaikat yang telah dikirim Allah dari surga.
Suara iqomat dari salah satu makmum di dalam masjid itu pun sudah terdengar. Pertanda sholat jamaah sholat maghrib akan segera dilaksanakan. Mukenaku pun masih belum ditemukan. ”Ya udahlah ra..mending kamu sholat aja di dalam. Udah mulai tuh sholat jamahnya.”, aku menyuruh zahra untuk segera masuk ke dalam masjid untuk melakukan sholat berjamaah bersama. ” Tapi mey, gimana ma kamu? Trus kamu ga ikut ga sholat jamaah dong.”, ujar zahra hendak menolak permintaannya untuk segera mengikuti sholat jamaah. ” Udah gapapa ra. Km tuh kudu lebih mengutamakan Allah dari pada hanya sekedar masalah sepeleku ini. Udah cepet masuk, keburu kamu ketinggalan satu roka’at tuh.”, kata ku agak memaksa. ” Ya udah, klo gitu aku masuk dulu ya. Kamu tunggu aku disini. Nanti kita cari lagi mukena mu sehabis sholat selesai. ok!”, Zahra pun akhirnya menyetujui permintaanku.
Setelah sholat jamah maghrib usai, zahra pun menghampiriku. Ketika semua jamaah sholat yang lain sudah keluar, kami pun memulai pencarian kembali. Beberapa menit kemuadian, akhirnya kamipun berhasil menemukan mukenaku. Ternyata ada yang menyembunyikan mukena milikku di tempat sholat jamaah laki-laki. Aku sangat bersyukur telah berhasil menemukan mukenaku. Sekali lagi aku harus berterima kasih pada Zahra karena bantuannya ini. Ternyata teman-teman yang selalu menjahiliku itu, masih belum bosan untuk selalu menggangguku. Kali ini mereka tidak menyembunyikan mukenaku lagi, tapi mereka mengerjaiku lebih parah lagi. Saat sholat jamaah maghrib telah dimulai, dan saat sujud rakaat pertama, mereka melepas tapi mukena atasanku. Sehingga mukenaku snagat terkesan tidak rapi, dan yang terpenting, membuatku tidak nyaman dalam melakukan sholat. Tak hanya itu yang mereka lakukan padaku. Saat ruku’ di rakaat ketiga, mereka tiba-tiba saja memelorotkan bawahan mukenaku. Tentu saja aku langsung panik. Namun, dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk tetap fokus dan berkonsentrasi beribadah pada Allah SWT. Aku hanya sedikit sedih, kenapa mereka sangat tega melakukan semua ini padaku. Akupun tak dapat melawan rasa ingin menangisku. Di sujud yang terakhir, akupun menumpahkan segala airmata yang sejak dahulu tertahan. Aku berkeluh kesah pada Sang Maha Pencipta. Aku memohon kesabaran pada-Nya.
Hari itu merupakan hari paling menyedihkan bagiku. Tapi untuk kesekian kalinya Zahra turut menghiburku. Kenapa mereka semua sangat hobi untuk mengejekku. Apa hanya karena aku seorang anak cina. Yah, aku memang dilahirkan sebagai keturunan cina. Ayahku memang lahir dari keluarga tionghoa. Namun ibuku asli orang jawa. Tapi apa memang berhak seorang anak cina seperti diriku, pantas dijadikan sebagai bahan permainan teman-teman yang lain? Sungguh tak adil bagiku.
Sesampai di rumahku, aku coba menenangkan diriku. aku ingin menghabiskan waktu malam ini dnegan membaca buku. Aku memang sangat suka membaca buku. Kebetulan hari ini aku habis meminjam buku di perpustakaan dekat rumahku. Aku sangat tertarik dengan judul di buku itu. ”Ukhti, Indahkan Jilbabmu”, sungguh judul yang membuatku terkagum-kagum. Ku ambil buku di atas meja belajarku itu. Kubaca halaman perhalaman. Aku tertarik pada salah satu kalimat yang ada di buku itu.
”Dewasa ini kita melihat banyak kaum muslimah yang tidak berjilbab dan apabila ada yang berjilbab bukan dengan tujuan untuk menutup aurat-aurat mereka akan tetapi dengan tujuan mengikuti mode, agar lebih anggun dan alasan lainnya. Sehingga mereka walaupun berjilbab tetapi masih memperlihatkan bentuk tubuh mereka dan mereka masih ber-tasyabbuh kepada orang kafir.”
Membaca kalimat tersebut. Aku merasa mendapat teguran. Aku hanya mengaku sebagai muslimah saja. Tapi aku masih belum membuktikan bahwa aku memanglah seorang muslimah yang sejati. Aku ingin menjadi seorang muslimah yang memang diharapkan oleh agamaku. Ternyata ilmu agamaku masih sangatlah dangkal. Ini smeua terjadi karena rasa ketidakpeduliaku untuk mencari ilmu. Tapi aku sangat bersyukur, di malam saat aku mencoba untuk menenangkan diri dari masalah yang baru saja aku hadapi tadi, membuat aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Aku mendapat ilmu baru mengenai kewajiban seorang muslimah untuk menutup aurat dengan berpakaian dan berjilbab dengan cara yang syar’i.
Sejak saat itu, aku ingin membangun jatidiriku sebagai seorang muslimah yang memang diharapkan oleh agamaku. Meskipun secara fisik aku tetaplah sebagai orang cina. Saat aku duduk di bagku SMP, aku memutuiskan untuk bersekolah di SMP Islam. Dan akupun mulai mengenakan jilbab. Di masa-masa SMP ku inipun, tak semulus yang aku bayangkan. Semua anak yang ada disana memandangku, seakan-akan aku terjebak dalam dunia yang berbeda. Padahal, dunia seperti inilah yang aku harapkan, dan aku yakini akan membuat hidupku menjadi lebih damai. Meskipun demikian, aku mencoba untuk bersabar, dan mencoba untuk membiasakan diri dengan keadaan. Secara lambat namun pasti, akhirnya, temen-teman yang sudah mengenalku secara baik, lama kelamaan segera berubah pikiran tentang pikirannya yang dahulu tentang diriku. Mereka meminta maaf padaku karena sikapnya dulu. Aku tak mengharapkan permintaan maaf itu, aku hanya maklum dengan sikap mereka waktu itu, dan aku sudah memaafkannya. Aku sangat bahagia sejak saat itu. Aku mempunyai banyak sahabat baik. Yang jelas, tak kalah baiknya dengan sahabatku, Zahra.
Itu semua memang hanya sepenggal kisah lamaku. Tapi, aku tak mampu untuk melupakan masa laluku yang sedikit berbeda dengan teman-temanku yang lain. Kisah kelam seorang gadis kecil cina yang memeluk agama Islam.
Saat menjelang ujian akhir SMA, aku mendapat cobaan yang sangat berat bagiku. Ayahku yang setelah sekian tahun menderita kanker polip di hidung itu, kini telah dipanggil oleh Sang Maha Esa. Sungguh aku tak kuasa menahan rasa tangis ini. Aku masih merasa syok atas kepergian ayahku untuk selama-lamanya ini. Ada beberapa hal yang aku sesalkan atas kepergian ayahku. Selama hidupnya, ayahku hanya masih mengerjakan ibadah sholat wajib beberapa kali saja. Ayahku memang seorang mu’alaf. Saat belum menikah dengan ibuku, ayahku yang berkeluarga china itu, masih memeluk agama kristen katolik. Tapi semenjak masuk agama Islam, ayahku sering merasa malas untuk melakukan ibadah yang memang telah diwajibkan oleh agama Islam. Saat bulan Ramadhan pun ayahku tidak 100% menjalankan ibadah puasa selama satu bulan. Ayahku sering membatalkan puasa di tengah hari saat berpuasa. Alasannya selalu karena ayahku merasa tak kuat untuk menahan lapar dan dahaga di siang hari yang begitu panas di kota Surabaya ini. Sebenarnya ayahku sudah tau bahwa ibadah sholat dan puasa telah diwajibkan dalam agama Islam. Namun ayahku selalu terhalang oleh rasa malas yang sudah menjadi sifatnya. Ibuku sudah terlalu sering menasihati ayahku. Tapi ayahku memang yang tak selalu menghiraukan semua perkataan ibuku. Dan kini, ayahku telah berpulang kepada Sang Maha Pencipta. Aku sebagai putri tertua di keluargaku ini, yang harus membantu ayahku, dengan cara menjadi putri yang solehah, yang mampu menyelamatkan ayahku di akhirat kelak.
Hal kedua yang menjadi kewajibanku setelah kepergian ayahku untuk selama-lamanya ini adalah aku harus menjadi seorang putri yang mampu untuk membantu ibuku untuk menghidupi kedua adikku. Aku memang akan lulus dari tingakatan sekolahku di SMA ini. Tapi, sebenarnya aku telah mempunyai niat yang sangat besar untuk dapat melanjutkan pendidikanku di Perguruan Tinggi. Tapi, sepertinya aku harus mengubur dalam-dalam impianku itu. Aku harus membantu ibuku bekerja untuk kedua adikku yang keduanya masih bersekolah di tingkat SMP. Sejak ayahku meninggal, ibuku hanya berwiraswasta sebagai penjual jajanan anak kecil di depan rumah. Tentu dari perkerjaan itu, ibuku tak mempunyai penghasilan yang cukup untuk membiayai adikku bersekolah.
Seusai aku lulus dari bangku SMA, aku berusaha kesana kemari untuk mencari pekerjaan. Di jaman sekarang ini, jarang ada perusahaan yang mau menerima calon pegawai dengan pendidikan hanya lulusan SMA. Namun, aku tak berputus asa. Aku yakin, Allah telah menyediakan rejeki untukku jika aku mau berusaha lebih giat lagi. Tak lama setelah aku menelusuri jalanan panjang ibu kota Jawa Timur ini, ada suara yang tiba-tiba menyapaku. ”Assalammualaikum”, suara seorang wanita dari dalam mobil dengan kaca samping mobil yang terbuka itu tiba-tiba memberi saam pada ku. ”Walaikumsalam”, jawabku lirih, dengan rasa ragu, apakah salam itu memang ditujukan bagi diriku. Sambil kutengokkan pandanganku ke arah mobil yang tiba-tiba mendekatiku.
Setelah beberapa detik ingatanku berpikir, akhirnya aku menyadari bahwa sosok wanita berjilbab yang memberi salam padaku itu adalah sahabat baikku di saat aku duduk di bangku SMP. Senyumku pun berkembang. Lalu aku sambut pelukan hangat dari sahabat yang sudah lama tak pernah aku jumpai itu. Aku sangat bahagia. Akhirnya kami pun saling bercerita selama kami tak pernah berjumpa. Dia pun turut bersedih atas keadaan yang sedang aku alami saat ini. Namun tiba-tiba dia teringat mengenai tawaran pekerjaan yang baru saja ia dapatkan dari seorang teman laki-lakinya SMA dulu. Dia menawarkan padaku mengenai pekerjaan dari kawan lamanya itu. Entu saja aku sangat gembira mendengar berita ini. Lalu, sahabatku itu bersedia untuk membatuku. Seketika itu pula dia langsung menghubungi kawan yang menawarkan pekerjaan padanya. ”Alhamdulillah. Ternyata pekerjaan itu masih belum ada yang mendapatkannya. Jadi besok kau akan ku antarkan ke perusahaan kawanku itu. Bagaimana?” ,katanya setelah beberapa mengobrol melalui telepon selular yang ada di tangannya. ” Benarkah? Alhamdulillah… Aku sangat bahagia mendengar kabar ini. Terima kasih ya atas bantuanmu ini. Aku sungguh berhutang budi padamu.”, ucapku
Tak ingin lama membuang waktu, esok harinya pun aku dan sahabat lamaku, langsung menuju ke perusahaan teman yang menawarkan pekerjaan padanya itu. Letak perusahaan temannya itu ternyata tak cukup jauh dari tempat aku dan sahabatku berjanji untuk bertemu hari ini. Tak sampai memakan waktu lebih dari setengah jam, kamipun sudah sampai di perusahaan tersebut. Sungguh tak disangka, ternyata perusahaan yang dimaksud, termasuk dalam jajaran perusahaan besar. Aku merasa pesimis untuk dapat diterima sebagai salah satu pegawai di perusahaan ini. Apalagi aku hanya sebagai lulusan SMA saja. Tapi dengan doa dan penuh harap, aku terus melangkahkan kakiku menuju ke ruang yang di tunjukkan oleh salah satu pegawai di perusahaan itu. Lalu, aku dan sahabatku itu menunggu di ruang tunggu. Kami menunggu beberapa menit lamanya. Tak lama kemudian, keluarlah sosok yang sangat dikenal oleh sahabatku. Sosok lelaki itu ternyata adalah teman baik sahabatku yang telah menawarkan pekerjaan. Untuk mempersingkat waktu, akhirnya sahabatku langsung memeperkenalkan diriku pada teman lelakinya itu. Dia menjelaskan bahwa akulah yang dipromosikan untuk melamar pekerjaan di perusahaannya itu. Lelaki indo-arab itu ternyata bernama Fathir. Fathir mempersilahkan aku masuk ke dalam ruangannya untuk dilakukan wawancara. Tentu saja aku masuk ke dalam ruangan ber-AC itu bersama sahabat yang telah memperkenalkan Fathir padaku. Aku sungguh salut saat Fathir mengijinkan Fitri menemaniku saat dilakukan wawancara di dalam ruangannya. Seakan dia bisa mendengar bisikan hatiku agar diijinkan untuk membawa Fitri ke dalam ruangannya. Mana mungkin dalam ruangan sebesar itu, hanya ada aku dan lelaki yang baru aku kenal itu. Namun, saat aku hendak duduk, aku merasa kaget melihat tulisan jabatan yang tergeletak di atas meja lelaki yang mengaku bernama Fathir itu. ”Ir. Moch. Fathir, DIREKTUR UTAMA VIFAT ABADI” Aku mencoba untuk menutupi rasa kagetku itu. Aku harus menenangkan pikiranku agar bisa berhasil diterima dengan baik di perusahaan yang cukup terkenal di kota Surabaya ini. Aku memang lupa menanyakan pada Fitri jabatan yang disandang oleh teman laki-lakinya itu. Tapi, yang aku herankan, kenapa seorang direktur sepertinya yang hendak mewawancarai calon pegawai sepertiku. Bukankah, pekerjaan seperti ini dilakukan oleh bagian personalia. Namun, aku urungkan niatku untuk mmepertanyakan hal ini.
” Maaf, mungkin kalian heran, knapa bukan bagian personalia yang akan mewawancarai. Tapi, kali ini aku sedang ingin mwngambil alih sementara tugas bagian personalia, khusus untuk teman yang telah direkomendasikan sahabat baiknya yang akan menjabati pekerjaan yang telah aku tawarkan. Aku yakin akan kulaitas dari sahabat dari Fitri, sahabat baikku. Aku yakin akan pilihannya. Dan aku sendiri yang ingin membuktikannya. Boleh kan?”, jelas Fathir selaku direktur utama di perusahaan terkenal di Surabaya itu.
Untuk kedua kalinya lelaki itu telah berhasil membaca pikiranku. Namun, kata-kata itu juga telah berhasil membuat aku bertambah kaget dan merasa agak tegang. Tentu saja, aku hanya bisa berharap dari pertolongan Allah agar memberi aku ketenangan untuk bisa menjawab segala pertanyaannya dengan baik dalam sesi wawancara ini.
Alhamdulillah, aku panjatkan atas karunia yang telah dilimpahkan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Tak terasa, aku sudah mengabdikan diri di perusahaan ini selama lebih dari lima bulan, sejak aku diterima menjadi bagian staff keuangan di perusahaan Vifat Abadi. Aku merasa bersyukur, karena dengan penghasilanku disini, aku bisa mencukupi kebutuhan keluargaku. Dan ibukupun sudah berhenti dari pekerjaan berdagangnya. Ini sudah saatnya aku memanjakan ibuku. Aku tidak ingin melihat ibuku menderita lagi.
Saat sepulang aku mengantarkan adikku yang paling bungsu ke perpustakaan daerah, aku melihat sebuat mobil terparkir di halaman rumahku. Aku pikir, mungkin ada tamu tetangga yang sedang berkunjung. Saat aku masuk ke dalam rumah, ternyata aku melihat sepasang sepatu pantovel ada di depan pintu rumahku. Setelah aku mengucap salam pada penghuni rumah, aku melihat sosok lelaki yang sangat aku kenali. Fathir. Ada apa dia berkunjung ke rumahku. Tiba-tiba ibu membawaku masuk ke dalam kamar, tentu setelah ijin pada Fathir. Ibu mengatakan tentang maksud Fathir datang kerumahku. Ternyata dia datang untuk melamar diriku. Mendengar penjelasan ibu itu,sungguh membuat jantungku berpacu sangat cepat. Hati kecilku tak bisa dibohongi, sejak awal, aku memang sudah merasa kagum dengan kepribadian yang dimiliki oleh Fathir. Jadi, jelaslah sudah, jawaban apa yang harus aku berikan padanya. Ibukupun tersenyum bahagia, begitu pula dengan adik-adikku.
Subhanallah. Allah begitu adil pada makhluknya. Allah melukiskan takdir yang sungguh indah di akhir cerita. Masa laluku yang suram itu kini telah berganti dengan kebahagiaan yang tak ternilai. Terima kasih ya Allah, airmataku kini telah tergantikan oleh indahnya mutiara nan kemilau, meskipun aku hanyalah muslimah cina biasa.
Bahkan pernah suatu hari, saat aku pergi ke masjid untuk bersembahyang maghrib berjamaah bersama Zahra. Merekapun masih terus saja mengejekku. Namun saat itu, sikap mereka lebih usil dari biasanya. Saat aku dan Zahra berwudlu, mukena yang aku letakkan di dalam masjid, mereka ambil dan mereka sembunyikan entah dimana. Setelah aku berwudlu, aku masuk ke dalam masjid. Dan aku pun kaget melihat mukenaku telah raib. Namun, mukena Zahra masih ada di tempat semula. Hanya mukena milikku saja yang hilang. Aku pun berusaha mencarinya, Zahra pun akhirnya ikut membantuku mencari. Di setiap sudut di dalam masjid itu aku cari, namun hingga menjelang sholat maghrib berjamaah dimulai, mukenaku masih belum ditemukan. Aku sangat sedih dengan kejadian ini. Teman-teman yang biasa mengusiliku tiba-tiba tertawa cekikikan melihat ulahku yang kebingungan bersama zahra. Sebelumnya, aku merasa buka mereka yang melakukan semua ini. Tapi, setelah melihat gelagat dan tingkah laku mereka yang selalu menyindirku saat aku dan Zahra sedang sibuk mencari mukenaku, aku menjadi berfikir bahwa merekalah yang melakukan semua ini. Karena aku tak ada bukti bahwa mereka yang telah menjadi tersangka dalam tebakanku, aku pun mengurungkan niat, untuk marah dan meminta mereka untuk mengembalikan mukena yang telah mereka sembunyikan. Aku sudah hampir meneteskan airmata. Namun, Zahra yang tak henti-hentinya menghiburku, aku merasa beruntung. Aku merasa Allah sangat sayang pada dirku, kerena telah mengirimkan seorang sahabat yang selalu ada di sampingku di saat aku merasa sangat tak berdaya mengahadapi cobaan hidup yang begitu berat bagi gadis kecil seusiaku saat itu. Terima kasih Zahra, engkau memang bidadari malaikat yang telah dikirim Allah dari surga.
Suara iqomat dari salah satu makmum di dalam masjid itu pun sudah terdengar. Pertanda sholat jamaah sholat maghrib akan segera dilaksanakan. Mukenaku pun masih belum ditemukan. ”Ya udahlah ra..mending kamu sholat aja di dalam. Udah mulai tuh sholat jamahnya.”, aku menyuruh zahra untuk segera masuk ke dalam masjid untuk melakukan sholat berjamaah bersama. ” Tapi mey, gimana ma kamu? Trus kamu ga ikut ga sholat jamaah dong.”, ujar zahra hendak menolak permintaannya untuk segera mengikuti sholat jamaah. ” Udah gapapa ra. Km tuh kudu lebih mengutamakan Allah dari pada hanya sekedar masalah sepeleku ini. Udah cepet masuk, keburu kamu ketinggalan satu roka’at tuh.”, kata ku agak memaksa. ” Ya udah, klo gitu aku masuk dulu ya. Kamu tunggu aku disini. Nanti kita cari lagi mukena mu sehabis sholat selesai. ok!”, Zahra pun akhirnya menyetujui permintaanku.
Setelah sholat jamah maghrib usai, zahra pun menghampiriku. Ketika semua jamaah sholat yang lain sudah keluar, kami pun memulai pencarian kembali. Beberapa menit kemuadian, akhirnya kamipun berhasil menemukan mukenaku. Ternyata ada yang menyembunyikan mukena milikku di tempat sholat jamaah laki-laki. Aku sangat bersyukur telah berhasil menemukan mukenaku. Sekali lagi aku harus berterima kasih pada Zahra karena bantuannya ini. Ternyata teman-teman yang selalu menjahiliku itu, masih belum bosan untuk selalu menggangguku. Kali ini mereka tidak menyembunyikan mukenaku lagi, tapi mereka mengerjaiku lebih parah lagi. Saat sholat jamaah maghrib telah dimulai, dan saat sujud rakaat pertama, mereka melepas tapi mukena atasanku. Sehingga mukenaku snagat terkesan tidak rapi, dan yang terpenting, membuatku tidak nyaman dalam melakukan sholat. Tak hanya itu yang mereka lakukan padaku. Saat ruku’ di rakaat ketiga, mereka tiba-tiba saja memelorotkan bawahan mukenaku. Tentu saja aku langsung panik. Namun, dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk tetap fokus dan berkonsentrasi beribadah pada Allah SWT. Aku hanya sedikit sedih, kenapa mereka sangat tega melakukan semua ini padaku. Akupun tak dapat melawan rasa ingin menangisku. Di sujud yang terakhir, akupun menumpahkan segala airmata yang sejak dahulu tertahan. Aku berkeluh kesah pada Sang Maha Pencipta. Aku memohon kesabaran pada-Nya.
Hari itu merupakan hari paling menyedihkan bagiku. Tapi untuk kesekian kalinya Zahra turut menghiburku. Kenapa mereka semua sangat hobi untuk mengejekku. Apa hanya karena aku seorang anak cina. Yah, aku memang dilahirkan sebagai keturunan cina. Ayahku memang lahir dari keluarga tionghoa. Namun ibuku asli orang jawa. Tapi apa memang berhak seorang anak cina seperti diriku, pantas dijadikan sebagai bahan permainan teman-teman yang lain? Sungguh tak adil bagiku.
Sesampai di rumahku, aku coba menenangkan diriku. aku ingin menghabiskan waktu malam ini dnegan membaca buku. Aku memang sangat suka membaca buku. Kebetulan hari ini aku habis meminjam buku di perpustakaan dekat rumahku. Aku sangat tertarik dengan judul di buku itu. ”Ukhti, Indahkan Jilbabmu”, sungguh judul yang membuatku terkagum-kagum. Ku ambil buku di atas meja belajarku itu. Kubaca halaman perhalaman. Aku tertarik pada salah satu kalimat yang ada di buku itu.
”Dewasa ini kita melihat banyak kaum muslimah yang tidak berjilbab dan apabila ada yang berjilbab bukan dengan tujuan untuk menutup aurat-aurat mereka akan tetapi dengan tujuan mengikuti mode, agar lebih anggun dan alasan lainnya. Sehingga mereka walaupun berjilbab tetapi masih memperlihatkan bentuk tubuh mereka dan mereka masih ber-tasyabbuh kepada orang kafir.”
Membaca kalimat tersebut. Aku merasa mendapat teguran. Aku hanya mengaku sebagai muslimah saja. Tapi aku masih belum membuktikan bahwa aku memanglah seorang muslimah yang sejati. Aku ingin menjadi seorang muslimah yang memang diharapkan oleh agamaku. Ternyata ilmu agamaku masih sangatlah dangkal. Ini smeua terjadi karena rasa ketidakpeduliaku untuk mencari ilmu. Tapi aku sangat bersyukur, di malam saat aku mencoba untuk menenangkan diri dari masalah yang baru saja aku hadapi tadi, membuat aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Aku mendapat ilmu baru mengenai kewajiban seorang muslimah untuk menutup aurat dengan berpakaian dan berjilbab dengan cara yang syar’i.
Sejak saat itu, aku ingin membangun jatidiriku sebagai seorang muslimah yang memang diharapkan oleh agamaku. Meskipun secara fisik aku tetaplah sebagai orang cina. Saat aku duduk di bagku SMP, aku memutuiskan untuk bersekolah di SMP Islam. Dan akupun mulai mengenakan jilbab. Di masa-masa SMP ku inipun, tak semulus yang aku bayangkan. Semua anak yang ada disana memandangku, seakan-akan aku terjebak dalam dunia yang berbeda. Padahal, dunia seperti inilah yang aku harapkan, dan aku yakini akan membuat hidupku menjadi lebih damai. Meskipun demikian, aku mencoba untuk bersabar, dan mencoba untuk membiasakan diri dengan keadaan. Secara lambat namun pasti, akhirnya, temen-teman yang sudah mengenalku secara baik, lama kelamaan segera berubah pikiran tentang pikirannya yang dahulu tentang diriku. Mereka meminta maaf padaku karena sikapnya dulu. Aku tak mengharapkan permintaan maaf itu, aku hanya maklum dengan sikap mereka waktu itu, dan aku sudah memaafkannya. Aku sangat bahagia sejak saat itu. Aku mempunyai banyak sahabat baik. Yang jelas, tak kalah baiknya dengan sahabatku, Zahra.
Itu semua memang hanya sepenggal kisah lamaku. Tapi, aku tak mampu untuk melupakan masa laluku yang sedikit berbeda dengan teman-temanku yang lain. Kisah kelam seorang gadis kecil cina yang memeluk agama Islam.
Saat menjelang ujian akhir SMA, aku mendapat cobaan yang sangat berat bagiku. Ayahku yang setelah sekian tahun menderita kanker polip di hidung itu, kini telah dipanggil oleh Sang Maha Esa. Sungguh aku tak kuasa menahan rasa tangis ini. Aku masih merasa syok atas kepergian ayahku untuk selama-lamanya ini. Ada beberapa hal yang aku sesalkan atas kepergian ayahku. Selama hidupnya, ayahku hanya masih mengerjakan ibadah sholat wajib beberapa kali saja. Ayahku memang seorang mu’alaf. Saat belum menikah dengan ibuku, ayahku yang berkeluarga china itu, masih memeluk agama kristen katolik. Tapi semenjak masuk agama Islam, ayahku sering merasa malas untuk melakukan ibadah yang memang telah diwajibkan oleh agama Islam. Saat bulan Ramadhan pun ayahku tidak 100% menjalankan ibadah puasa selama satu bulan. Ayahku sering membatalkan puasa di tengah hari saat berpuasa. Alasannya selalu karena ayahku merasa tak kuat untuk menahan lapar dan dahaga di siang hari yang begitu panas di kota Surabaya ini. Sebenarnya ayahku sudah tau bahwa ibadah sholat dan puasa telah diwajibkan dalam agama Islam. Namun ayahku selalu terhalang oleh rasa malas yang sudah menjadi sifatnya. Ibuku sudah terlalu sering menasihati ayahku. Tapi ayahku memang yang tak selalu menghiraukan semua perkataan ibuku. Dan kini, ayahku telah berpulang kepada Sang Maha Pencipta. Aku sebagai putri tertua di keluargaku ini, yang harus membantu ayahku, dengan cara menjadi putri yang solehah, yang mampu menyelamatkan ayahku di akhirat kelak.
Hal kedua yang menjadi kewajibanku setelah kepergian ayahku untuk selama-lamanya ini adalah aku harus menjadi seorang putri yang mampu untuk membantu ibuku untuk menghidupi kedua adikku. Aku memang akan lulus dari tingakatan sekolahku di SMA ini. Tapi, sebenarnya aku telah mempunyai niat yang sangat besar untuk dapat melanjutkan pendidikanku di Perguruan Tinggi. Tapi, sepertinya aku harus mengubur dalam-dalam impianku itu. Aku harus membantu ibuku bekerja untuk kedua adikku yang keduanya masih bersekolah di tingkat SMP. Sejak ayahku meninggal, ibuku hanya berwiraswasta sebagai penjual jajanan anak kecil di depan rumah. Tentu dari perkerjaan itu, ibuku tak mempunyai penghasilan yang cukup untuk membiayai adikku bersekolah.
Seusai aku lulus dari bangku SMA, aku berusaha kesana kemari untuk mencari pekerjaan. Di jaman sekarang ini, jarang ada perusahaan yang mau menerima calon pegawai dengan pendidikan hanya lulusan SMA. Namun, aku tak berputus asa. Aku yakin, Allah telah menyediakan rejeki untukku jika aku mau berusaha lebih giat lagi. Tak lama setelah aku menelusuri jalanan panjang ibu kota Jawa Timur ini, ada suara yang tiba-tiba menyapaku. ”Assalammualaikum”, suara seorang wanita dari dalam mobil dengan kaca samping mobil yang terbuka itu tiba-tiba memberi saam pada ku. ”Walaikumsalam”, jawabku lirih, dengan rasa ragu, apakah salam itu memang ditujukan bagi diriku. Sambil kutengokkan pandanganku ke arah mobil yang tiba-tiba mendekatiku.
Setelah beberapa detik ingatanku berpikir, akhirnya aku menyadari bahwa sosok wanita berjilbab yang memberi salam padaku itu adalah sahabat baikku di saat aku duduk di bangku SMP. Senyumku pun berkembang. Lalu aku sambut pelukan hangat dari sahabat yang sudah lama tak pernah aku jumpai itu. Aku sangat bahagia. Akhirnya kami pun saling bercerita selama kami tak pernah berjumpa. Dia pun turut bersedih atas keadaan yang sedang aku alami saat ini. Namun tiba-tiba dia teringat mengenai tawaran pekerjaan yang baru saja ia dapatkan dari seorang teman laki-lakinya SMA dulu. Dia menawarkan padaku mengenai pekerjaan dari kawan lamanya itu. Entu saja aku sangat gembira mendengar berita ini. Lalu, sahabatku itu bersedia untuk membatuku. Seketika itu pula dia langsung menghubungi kawan yang menawarkan pekerjaan padanya. ”Alhamdulillah. Ternyata pekerjaan itu masih belum ada yang mendapatkannya. Jadi besok kau akan ku antarkan ke perusahaan kawanku itu. Bagaimana?” ,katanya setelah beberapa mengobrol melalui telepon selular yang ada di tangannya. ” Benarkah? Alhamdulillah… Aku sangat bahagia mendengar kabar ini. Terima kasih ya atas bantuanmu ini. Aku sungguh berhutang budi padamu.”, ucapku
Tak ingin lama membuang waktu, esok harinya pun aku dan sahabat lamaku, langsung menuju ke perusahaan teman yang menawarkan pekerjaan padanya itu. Letak perusahaan temannya itu ternyata tak cukup jauh dari tempat aku dan sahabatku berjanji untuk bertemu hari ini. Tak sampai memakan waktu lebih dari setengah jam, kamipun sudah sampai di perusahaan tersebut. Sungguh tak disangka, ternyata perusahaan yang dimaksud, termasuk dalam jajaran perusahaan besar. Aku merasa pesimis untuk dapat diterima sebagai salah satu pegawai di perusahaan ini. Apalagi aku hanya sebagai lulusan SMA saja. Tapi dengan doa dan penuh harap, aku terus melangkahkan kakiku menuju ke ruang yang di tunjukkan oleh salah satu pegawai di perusahaan itu. Lalu, aku dan sahabatku itu menunggu di ruang tunggu. Kami menunggu beberapa menit lamanya. Tak lama kemudian, keluarlah sosok yang sangat dikenal oleh sahabatku. Sosok lelaki itu ternyata adalah teman baik sahabatku yang telah menawarkan pekerjaan. Untuk mempersingkat waktu, akhirnya sahabatku langsung memeperkenalkan diriku pada teman lelakinya itu. Dia menjelaskan bahwa akulah yang dipromosikan untuk melamar pekerjaan di perusahaannya itu. Lelaki indo-arab itu ternyata bernama Fathir. Fathir mempersilahkan aku masuk ke dalam ruangannya untuk dilakukan wawancara. Tentu saja aku masuk ke dalam ruangan ber-AC itu bersama sahabat yang telah memperkenalkan Fathir padaku. Aku sungguh salut saat Fathir mengijinkan Fitri menemaniku saat dilakukan wawancara di dalam ruangannya. Seakan dia bisa mendengar bisikan hatiku agar diijinkan untuk membawa Fitri ke dalam ruangannya. Mana mungkin dalam ruangan sebesar itu, hanya ada aku dan lelaki yang baru aku kenal itu. Namun, saat aku hendak duduk, aku merasa kaget melihat tulisan jabatan yang tergeletak di atas meja lelaki yang mengaku bernama Fathir itu. ”Ir. Moch. Fathir, DIREKTUR UTAMA VIFAT ABADI” Aku mencoba untuk menutupi rasa kagetku itu. Aku harus menenangkan pikiranku agar bisa berhasil diterima dengan baik di perusahaan yang cukup terkenal di kota Surabaya ini. Aku memang lupa menanyakan pada Fitri jabatan yang disandang oleh teman laki-lakinya itu. Tapi, yang aku herankan, kenapa seorang direktur sepertinya yang hendak mewawancarai calon pegawai sepertiku. Bukankah, pekerjaan seperti ini dilakukan oleh bagian personalia. Namun, aku urungkan niatku untuk mmepertanyakan hal ini.
” Maaf, mungkin kalian heran, knapa bukan bagian personalia yang akan mewawancarai. Tapi, kali ini aku sedang ingin mwngambil alih sementara tugas bagian personalia, khusus untuk teman yang telah direkomendasikan sahabat baiknya yang akan menjabati pekerjaan yang telah aku tawarkan. Aku yakin akan kulaitas dari sahabat dari Fitri, sahabat baikku. Aku yakin akan pilihannya. Dan aku sendiri yang ingin membuktikannya. Boleh kan?”, jelas Fathir selaku direktur utama di perusahaan terkenal di Surabaya itu.
Untuk kedua kalinya lelaki itu telah berhasil membaca pikiranku. Namun, kata-kata itu juga telah berhasil membuat aku bertambah kaget dan merasa agak tegang. Tentu saja, aku hanya bisa berharap dari pertolongan Allah agar memberi aku ketenangan untuk bisa menjawab segala pertanyaannya dengan baik dalam sesi wawancara ini.
Alhamdulillah, aku panjatkan atas karunia yang telah dilimpahkan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Tak terasa, aku sudah mengabdikan diri di perusahaan ini selama lebih dari lima bulan, sejak aku diterima menjadi bagian staff keuangan di perusahaan Vifat Abadi. Aku merasa bersyukur, karena dengan penghasilanku disini, aku bisa mencukupi kebutuhan keluargaku. Dan ibukupun sudah berhenti dari pekerjaan berdagangnya. Ini sudah saatnya aku memanjakan ibuku. Aku tidak ingin melihat ibuku menderita lagi.
Saat sepulang aku mengantarkan adikku yang paling bungsu ke perpustakaan daerah, aku melihat sebuat mobil terparkir di halaman rumahku. Aku pikir, mungkin ada tamu tetangga yang sedang berkunjung. Saat aku masuk ke dalam rumah, ternyata aku melihat sepasang sepatu pantovel ada di depan pintu rumahku. Setelah aku mengucap salam pada penghuni rumah, aku melihat sosok lelaki yang sangat aku kenali. Fathir. Ada apa dia berkunjung ke rumahku. Tiba-tiba ibu membawaku masuk ke dalam kamar, tentu setelah ijin pada Fathir. Ibu mengatakan tentang maksud Fathir datang kerumahku. Ternyata dia datang untuk melamar diriku. Mendengar penjelasan ibu itu,sungguh membuat jantungku berpacu sangat cepat. Hati kecilku tak bisa dibohongi, sejak awal, aku memang sudah merasa kagum dengan kepribadian yang dimiliki oleh Fathir. Jadi, jelaslah sudah, jawaban apa yang harus aku berikan padanya. Ibukupun tersenyum bahagia, begitu pula dengan adik-adikku.
Subhanallah. Allah begitu adil pada makhluknya. Allah melukiskan takdir yang sungguh indah di akhir cerita. Masa laluku yang suram itu kini telah berganti dengan kebahagiaan yang tak ternilai. Terima kasih ya Allah, airmataku kini telah tergantikan oleh indahnya mutiara nan kemilau, meskipun aku hanyalah muslimah cina biasa.
Kamis, 04 November 2010
::: Ramadhan Sore Itu :::
Sore itu langit sedang berawan dan sang surya pun menyembunyikan wajahnya yang bulat diantara awan-awan yang berserakan diangkasa. Tampaknya hari itu dia tidak rela untuk meninggalkan hari yang begitu damai dan bersahaja. Angin bertiup lembut kearah barat seolah sedang menunjukkan jalan pulang pada mentari untuk segera menyelesaikan tugasnya.
Hari itu adalah hari ketiga puluh puasa ramadhan. Seperti biasa pada hari itu para penghuni didaerah tempat tinggalku sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk melaksanakan berbuka puasa yang terakhir di tahun ini dan bersiap-siap menjelang hari raya idhul fitri yang begitu dinanti-nantikan.
Tetapi lain halnya dengan Pak Saman. Disaat orang-orang sedang Menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing, beliau tampak khusyuk berdzikir diatas sajadah merah yang menghampar diatas lantai ruangan berukuran 4 x 4 m didalam rumahnya. Teringat olehnya hari-hari dimana dia merasakan sebuah karunia yang oleh kebanyakan orang dijadikan hal yang sangat menakutkan, yaitu puasa dan menahan lapar, tetapi buat dirinya itu hanyalah salah satu dari rukun islam yang harus dilakukan dengan sabar dan hati yang tulus.
Pernah suatu malam aku dan 2 orang temanku bersilahturahmi kerumah beliau. Seperti biasa dengan ditemani kopi hangat dan rokok dji sam soe kami ngobrol , membahas tentang hal-hal yang sudah kami alami sehari-hari .
“Sangat disayangkan yach…budaya umat ini. Bukankah dimimbar-mimbar sering diungkapkan kalau berpuasa itu menahan hawa nafsu, dimana kita harus mengendalikan diri kita untuk tidak makan, minum dan melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa kita. Tetapi mengapa disaat waktu berbuka puasa tiba, semuanya dengan penuh gairah menyiapkan makanan, minuman, kolak, sirup dan lain-lainnya untuk disantap begitu adzan maghrib berkumandang. Padahal semua itu khan belum tentu bisa masuk ke perut kita. Dan kalau sudah begini…dimana makna dari menahan hawa nafsu, kalau begitu berbuka kita mengikuti nafsu yang begitu besar.”
Aku dan 2 orang temanku mendengarkan dengan seksama semua yang diucapkan Pak Saman. Kata-katanya begitu mengena kedalam hatiku dan pikiranku. Selama ini memang ketika berbuka puasa aku selalu menyiapkan makan besar seolah-olah aku sedang membalas dendam pada makanan setelah seharian tidak makan dan minum sedikitpun. Tak jarang juga kalau setelah itu perutku akan terasa sakit sekali sampai tidak bisa bergerak karena kekenyangan. Dan yang pasti waktu maghrib pun akan berlalu sebelum aku menunaikannya. Aku jadi sedih, ternyata aku belum berhasil untuk menahan hawa nafsu yang selama ini diajarkan di mutiara-mutiara ramadhan setiap harinya.
Dalam hati aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi seorang muslim yang benar-menar mengikuti sunnah rasulnya. Terbayang olehku akhlak rasulullah yang begitu mulia hingga seluruh umat manusia dimuka bumi ini begitu mengenalnya.
Dan menjelang maghrib dihari terakhir puasa ramadhan tahun ini aku kembali bersilaturahmi ke rumah Pak Saman. Kebetulan hari itu istri beliau sedang ada di luar , jadi setelah aku memberi salam beliau langsung menuju ke tempat suaminya yang sedang berdzikir untuk memberitahukan kedatanganku. Setelah menunggunya beberapa lama akhirnya beliau munculnya juga dari balik gorden yang menutupi antara ruang tamu dengan ruang tengah.
Tak lupa kuucapkan Assalamu ‘Alaikum dan “sungkem” padanya seperti aku sungkem pada kedua orang tuaku karena dalam hatiku aku sudah menganggap orang tua ini sebangai orang tuaku sendiri. Dia membalas salamku sambil tersenyum. Memang orang tua ini begitu berwibawa diantara tutur kata dan perilakunya yang sholeh. Sayup-sayup adzan maghrib sudah terdengar dikejauhan. Tanda kalau hari ini kita sudah mencapai hari yang penuh kemenangan, hari yang penuh kebahagiaan, hari yang tak akan pernah kita dapat rasakan selain hari ini. Allahu akbar…allahu akbar…allahu akbar… allahu akbar walillah ilham.
“Ya Allah hindarkan aku dari sifat yang berlebih-lebihan. Dan jadikanlah aku orang yang senantiasa menjalankan petunjuk-petunjukMu. Amiin.”
Hari itu adalah hari ketiga puluh puasa ramadhan. Seperti biasa pada hari itu para penghuni didaerah tempat tinggalku sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk melaksanakan berbuka puasa yang terakhir di tahun ini dan bersiap-siap menjelang hari raya idhul fitri yang begitu dinanti-nantikan.
Tetapi lain halnya dengan Pak Saman. Disaat orang-orang sedang Menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing, beliau tampak khusyuk berdzikir diatas sajadah merah yang menghampar diatas lantai ruangan berukuran 4 x 4 m didalam rumahnya. Teringat olehnya hari-hari dimana dia merasakan sebuah karunia yang oleh kebanyakan orang dijadikan hal yang sangat menakutkan, yaitu puasa dan menahan lapar, tetapi buat dirinya itu hanyalah salah satu dari rukun islam yang harus dilakukan dengan sabar dan hati yang tulus.
Pernah suatu malam aku dan 2 orang temanku bersilahturahmi kerumah beliau. Seperti biasa dengan ditemani kopi hangat dan rokok dji sam soe kami ngobrol , membahas tentang hal-hal yang sudah kami alami sehari-hari .
“Sangat disayangkan yach…budaya umat ini. Bukankah dimimbar-mimbar sering diungkapkan kalau berpuasa itu menahan hawa nafsu, dimana kita harus mengendalikan diri kita untuk tidak makan, minum dan melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa kita. Tetapi mengapa disaat waktu berbuka puasa tiba, semuanya dengan penuh gairah menyiapkan makanan, minuman, kolak, sirup dan lain-lainnya untuk disantap begitu adzan maghrib berkumandang. Padahal semua itu khan belum tentu bisa masuk ke perut kita. Dan kalau sudah begini…dimana makna dari menahan hawa nafsu, kalau begitu berbuka kita mengikuti nafsu yang begitu besar.”
Aku dan 2 orang temanku mendengarkan dengan seksama semua yang diucapkan Pak Saman. Kata-katanya begitu mengena kedalam hatiku dan pikiranku. Selama ini memang ketika berbuka puasa aku selalu menyiapkan makan besar seolah-olah aku sedang membalas dendam pada makanan setelah seharian tidak makan dan minum sedikitpun. Tak jarang juga kalau setelah itu perutku akan terasa sakit sekali sampai tidak bisa bergerak karena kekenyangan. Dan yang pasti waktu maghrib pun akan berlalu sebelum aku menunaikannya. Aku jadi sedih, ternyata aku belum berhasil untuk menahan hawa nafsu yang selama ini diajarkan di mutiara-mutiara ramadhan setiap harinya.
Dalam hati aku berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi seorang muslim yang benar-menar mengikuti sunnah rasulnya. Terbayang olehku akhlak rasulullah yang begitu mulia hingga seluruh umat manusia dimuka bumi ini begitu mengenalnya.
Dan menjelang maghrib dihari terakhir puasa ramadhan tahun ini aku kembali bersilaturahmi ke rumah Pak Saman. Kebetulan hari itu istri beliau sedang ada di luar , jadi setelah aku memberi salam beliau langsung menuju ke tempat suaminya yang sedang berdzikir untuk memberitahukan kedatanganku. Setelah menunggunya beberapa lama akhirnya beliau munculnya juga dari balik gorden yang menutupi antara ruang tamu dengan ruang tengah.
Tak lupa kuucapkan Assalamu ‘Alaikum dan “sungkem” padanya seperti aku sungkem pada kedua orang tuaku karena dalam hatiku aku sudah menganggap orang tua ini sebangai orang tuaku sendiri. Dia membalas salamku sambil tersenyum. Memang orang tua ini begitu berwibawa diantara tutur kata dan perilakunya yang sholeh. Sayup-sayup adzan maghrib sudah terdengar dikejauhan. Tanda kalau hari ini kita sudah mencapai hari yang penuh kemenangan, hari yang penuh kebahagiaan, hari yang tak akan pernah kita dapat rasakan selain hari ini. Allahu akbar…allahu akbar…allahu akbar… allahu akbar walillah ilham.
“Ya Allah hindarkan aku dari sifat yang berlebih-lebihan. Dan jadikanlah aku orang yang senantiasa menjalankan petunjuk-petunjukMu. Amiin.”
::: Aku memang tak berguna :::
Cercaaan adalah sarapan wajib ku. tiada hari tanpa hinaan dan cercaan. yah itulah kehidupanku. banyak orang yang mengatakan bahwa rumah ku adalah surgaku tapi yang ini beda. aku tak beta dengan rumahku sendiri. bisa dibilang, rumahku adalah neraka. meamng menakutkan . bukan rumahny atapi para penghuninya sangat menakutkan. ayahku yang umurnya 50 tahunsaja, lagaknya seperti sok tua apalagi adik-adikku sepertinya jago banget dalam hal menipu atau mencuri. uangku ang ada di laci saja menjadi korban. ketidaktenangan menghantui rumah dan hidupku. sepertinya hidupku benar-benar tidak berguna. aku emamng malas tidak seperti adikku yang jago mengotal-atik motor dan elektronika. sedangkan aku? yah aku hanya diam saja tapi aku berusaha mencari kerja tapi hasilnya nihil. setiap hari ayahku selalu emmarahuiku. aku heran degnannya, apakah setan sudah merasuk ke jiwanya dan membisiki agar memarahiku terus? bayangin aja, setiap aku membaca buku, sepertinya mata ayah panas dan seolah menjadi pembunuh. apakah embaca itu salah? aku tidak ebrani membantah tapi jika aku melihat ayah, dia lebih sering ongkang-ongkangan di rumah. menurutku lebih baik membaca dari pada ongkang-ongkangan.
ah,mungkin ini takdirku kali ya? selalu ada masalah dan nggak begitu berguna bagi keluarga. bisanya hanya menyusahkan. itu menurut ayah. rasanya ingin sekali emb\mbahagiakan kedua orang tua dan keluarga tetapi emngapa mereka tidak mendukungku? ekonomi keluarga semakin melemah. ayah semakin malas bekerja. mentang-emntang ibu memiliki warung, ia lupa kewajibannya sebagai seorang ayah yang menafkahi keluarga. aku heran degnan ayah, kenapa ia selalu meamndangku negatif? kenapa? apakah aku sudah tercoreng di mata ayah? ataukah aku tidak begitu berguna?
menjadi sukse adalah impian tapi keliatannya itu jauh dan jauh sekali. aku iri degnan teman-teman yang kuliah dan merasakan indahnya masa-masa remaja mereka. keliatannya aku ahnya duduk disini saja. yah menajdi orang yang tidak emmiliki kaki memang merepotkan orang lain. mungkin itu tidak berguna tapi kenapa Allah memberiku takdir semacam ini? seopertinya tidak ada artinya lagi untuk hidup. mau menikah, ya siapa yang mau denganku, mau bekerja, siapa sih ayng yakin dengan kemampuan orang yang berkaki satusemacam ini. ku duduk di teras sambil melihat airu hujan yang turun ke bumi. jatuh dan tidak berguna , mungkin seperti aku tapi aku tiba-tiba tersentak. bahwa air hujan tidak terbuang sia-sia . Allah menciptakan aku nggak asal-asalan. air hujan saja bisa memberikan manfaat bagi makhluk yang lain. kenapa aku tidak?
ah,mungkin ini takdirku kali ya? selalu ada masalah dan nggak begitu berguna bagi keluarga. bisanya hanya menyusahkan. itu menurut ayah. rasanya ingin sekali emb\mbahagiakan kedua orang tua dan keluarga tetapi emngapa mereka tidak mendukungku? ekonomi keluarga semakin melemah. ayah semakin malas bekerja. mentang-emntang ibu memiliki warung, ia lupa kewajibannya sebagai seorang ayah yang menafkahi keluarga. aku heran degnan ayah, kenapa ia selalu meamndangku negatif? kenapa? apakah aku sudah tercoreng di mata ayah? ataukah aku tidak begitu berguna?
menjadi sukse adalah impian tapi keliatannya itu jauh dan jauh sekali. aku iri degnan teman-teman yang kuliah dan merasakan indahnya masa-masa remaja mereka. keliatannya aku ahnya duduk disini saja. yah menajdi orang yang tidak emmiliki kaki memang merepotkan orang lain. mungkin itu tidak berguna tapi kenapa Allah memberiku takdir semacam ini? seopertinya tidak ada artinya lagi untuk hidup. mau menikah, ya siapa yang mau denganku, mau bekerja, siapa sih ayng yakin dengan kemampuan orang yang berkaki satusemacam ini. ku duduk di teras sambil melihat airu hujan yang turun ke bumi. jatuh dan tidak berguna , mungkin seperti aku tapi aku tiba-tiba tersentak. bahwa air hujan tidak terbuang sia-sia . Allah menciptakan aku nggak asal-asalan. air hujan saja bisa memberikan manfaat bagi makhluk yang lain. kenapa aku tidak?
::: GADIS BERKERUDUNG MERAH JAMBU :::
“Ceweeekkk…,” begitulah kalau Glenn sudah gabung sama teman- temannya, Glenn bakal sering menggoda cewek- cewek yang lewat di depan komplek rumahnya.kadang mama Glenn, marah melihat anak lajangnya itu, “habis kuliah bukannya cari kerja, ehh ini malah goda- godain cewek- cewek yang jalan di depan komplek, dasar…”Ujar mama Glenn pada anak tunggalnya itu, “Mau jadi apa kamu nak, kalo setiap hari kerjaannya Cuma goda- godain cewek- cewek?”Tanya mama sama Glenn. Glenn hanya tersenyum simpul.
Saat Glenn sedang asyik merokok dan nongkrong sama teman- teman se geng nya, tiba- tiba lewat seorang gadis berkerudung merah jambu, “Glenn, cewek tuh…”ujar Niko salah satu teman se geng nya Glenn, “Ah… gue lagi malas.”Ujar Glenn.”Tumben lo, lo masih normal kan?”ujar Niko, “Ya iya lah…lo pikir gue si Ryan yang dari jombang itu apa?”ujar Glenn,teman- teman geng Glenn tertawa terbahak- bahak,Glenn pun menuruti saran teman- temannya itu, “Cewek manis mau kemana?jawab dong pertanyaan aa’”. tiba- tiba,”Byuurrrr”mereka di siram gadis berkerudung itu,Mereka pun lari terbirit- birit.
“Glenn, kamu kenapa?gak ada angin, gak ada hujan koq malah baju kamu basah?” Tanya Mama.”Gak ada apa- apa ma.”ujar Glenn.”Gak ada apa- apa gimana?kamu main apa sama teman- teman geng kamu?kalian ini kayak anak kecil saja.”Glenn langsung masuk ke kamar nya.
Hari ini, saat Glenn sedang santai- santai sambil memainkan gitar kesayangannya, tiba- tiba Mama menghampirinya.”Glenn….kamu ngapain sich?tanya Mama.”Mama gak lihat nich, Glenn main gitar.”Ujar Gleen.”Iya mama tahu, kamu temenin Mama ke supermarket yuk.”ujar Mama. “Hah…..gak salah denger nih Ma. Nemenin Mama ke supermarket?Mama pergi sendiri aja dech, ntar Glenn ada janji ma teman- teman Glenn.”ujar Glenn.”Teman- teman?aduh Glenn,,, semenjak kamu berteman sama mereka, kamu jadi pemalas ya, kamu tahu gak kalau kita itu keluarga yang bisa di bilang keluarga baik- baik, eh kamu malah bergaul sama mereka, kamu ini kan….”bla bla bla…”Glenn udah gak mendengar lagi mama ngomong apa, “Yuk Ma, Glenn antar.”ujar Glenn, Mama Glenn tersenyum puas.
Sampai juga Ibu dan Anak ini disupermarket, “Glenn, kamu ke supermarket nya ya, Mama mau lihat- lihat diskon itu dulu.”ujar Mama sambil menunjuk prmo sale pakaian- pakaian khusus wanita.Gleen pun langsung menuju supermarket, saat Glenn mengambil keranjang tiba- tiba tangannya bersentuhan dengan tangan seorang cewek, “Maaf mbak…”ujar glenn.Glenn terkejut melihat gadis itu, “Kamu?”ujar Glenn dan gadis itu bersamaaan.”Ngapain kamu di sini?”Tanya Glenn.”Emang nya mau ngapain lagi hah?”kalo ke supermarket itu mau belanja, bukan mau berobat kan?”Ujar gadis itu.Glenn mengangguk, “Ya udah gak usah Tanya.”ujar gadis itu sambil berlalu meninggalkan Glenn ynag masih kebingungan.Tanpa Glenn sadari rupanya Mama sudah ada di belakang Glenn,”Glenn, mana belanjaanya?”Tanya Mama. “Nih ma..”ujar Glenn sambil memberikan keranjang yang masih kosong, “Glenn ini masih kosong…”ujar Mama.
Glenn itu sebenarnya cowok yang baik, tapi karena pergaulan, jadi penampilah Glenn agak urakan, Glenn juga sebenarnya adalah anak kesayangan orang tua nya, Glenn itu sebenarnya anak yang penurut, tapi semenjak bergaul sama teman- temannya, Sikap Glenn pun berubah di luar, tapi kalau sudah di rumah Sikap Glenn seperti sikap- sikap anak yang baik sama ortunya.”Glenn dari mana lo?”Tanya Niko.”Biasa……..”uajr Glenn.”Lo gak ngantar nyokap lo belanja lagi kan?cemen lo……”Ujar Niko.”Enggak koq, gue ada urusan bentar, jadi ya gue mesti pergi, kenapa lo kangen ya ma gue?”Ujar Glenn. “Idih… mulai kumatnya, ingat Glenn lo tuh preman di komplek kita, masa’ preman sifatnya kayak Lo sich?”ujar Niko.Glenn hanya tersenyum, sambil mengeluarkan rokok nya.
Glenn pun berjalan- jalan di komplek rumahnya. Tiba- tiba sebuah motor melintas, Glenn melihat gadis yang berkerudung merah jambu itu di bonceng seorang pria, “Ahhh….beruntung banget tuch cowok, bisa bonceng gadis berkerudung itu, tapi….”Ujar Glenn dalam hati, Glenn melihat gadis itu di cium pemuda yang memboncengnya.”Dasar cewek… luar nya aja alim, pake acara ciuman segala lagi.”batin Glenn, Glenn gak menyadari kalo dia cemburu.Glenn pun mengikuti cewek itu, dia menuju ke masjid dekat rumah Glenn,”Assalamu’alaikum anak- anak……….”Ujar gadis berkerudung itu, “Wa’alaikumsalam, Bu Nadia……jawab anak- anak serentak.””oh… namanya Nadia.”batin Glenn.
Sudah beberapa hari ini, Glenn selalu pergi ke masjid, teman- teman se geng Glenn pun heran melihat perubahan sikap Glenn, “Glenn, lo udah tobat ya?sekarang tempat nongkrong lu masjid.”Ujar Niko, Glenn hanya tersenyum simpul, “gue ada misi” ujar Glenn, “Misi apaan? Lo mau main detektif- detektifan ya?aduh Glenn lo bukan anak- anak lagi, tau gak sich?”Ujar Niko, “Biarin….”ujar Glenn sambil berlari.”Sebelum kita pulang ada yang mau di Tanya lagi anak- anak?”Tanya Nadia pada murid- muridnya, “gak ada bu………”teriak murid- murid, “Baik kalo gitu kita bisa pulang ke rumah masing- masing, besok kalian datang lagi ya, kita belajar sama- sama lagi, Assalamu’alaikum…”Ujar Nadia, “waalaikum salam……….”teriak murid- murid sambil berjalan pulang ke rumah masing- masing.
“Nadia………..”panggil Glenn, “Kamu?mau ngapain lagi kamu?”Tanya Nadia,”Enggak koq.Cuma negur aja”ujar Glenn.”gak ada kerjaan.’’ Ujar Nadia sambil berlalu, “Nad… Nadia… bu Nadia…”panggil Glenn, “Apa lagi?”Tanya Nadia, “Ehmm…. Saya boleh ikut gabung belajar ngaji sama anak- anak yang lain gak?’tanya Glenn.”Kamu jangan main- main ya?Mesjid itu bukan untuk orang- orang seperti kamu, tahu?”ujar Nadia. “Loh.. kamu seorang guru ngaji koq ngomong seperti itu sich?bukannya Allah itu selalu memberikan kesempatan untuk hambanya bertobat ya?koq malah kamu yang melarang?”Tanya Glenn.”Ya sudah, jangan khotbah di depan saya, kalau kamu mau datang, saya ada di masjid dari hari senin sampai jum’at dari jam 10 pagi sampai Ba’ da Ashar.”Ujar Nadia.Glenn hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan Nadia.
“Dari mana aja lo?”Tanya Niko, “Gue, dari mesjid.” Ujar Glenn. “Hah….. Gak salah denger gue?Preman insaf lo?”Tanya Niko, “Terserah apa kata lo dech, yang pasti niat gue untuk ngedekatin Nadia, bisa di mulai besok.”Ujar Glenn. “Nadia?siapa tuch?incaran lo lagi ya?cewek mana?body nya gimana?seksi gak?”Tanya Niko, “Ahhh…. Banyak Tanya lo, ntar lo juga tahu siapa Nadia.”Ujar Glenn sambil berlalu, “Lo mau kemana?”Tanya Niko, “Pulang…”ujar Glenn, Niko hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.”Glenn?dari mana kamu?jangan bilang kamu nongkrong gak jelas lagi sama teman- teman kamu itu.”tanya Mama, “Gak koq ma, Glenn dari mesjid.”Ujar Glenn sambil masuk ke kamar nya, “Mama gak salah dengar Glenn?Kamu gak sakit kan nak ?”Tanya Mama sambil memegang kening anak semata wayangnya itu,”Apa- apaan sich ma?mulai besok Glenn mau ikut pengajian di mesjid. “ujar Glenn,Mama Glenn langsung pingsan mendengar kata- kata anak kesayangannya itu.
Glenn benar- benar pergi ke masjid hari ini, “Assalamu’alaikum…”ujar Nadia, “Waalaikumsalam.”Ujar Glenn. “Loh… kamu sendirian di sini, anak- anak belom datang?”Tanya Nadia, “Mana gue tahu, Gue kan anak baru di pengajian ini, gimana sich lo? “ujar Glenn, Nadia hanya tersenyum, “Jadi kamu beneran mau ngaji?”Tanya Nadia, ‘Iya.”ujar Glenn. “Ya udah kamu ambil Al- Qur’annya ya, kita ngaji sama- sama.”ujar Nadia.”Alqur’an?gue gak bawa.”ujar Glenn.”Ya udah kamu ambil di rak itu aja.” Ujar Nadia, Glenn pun mengambil Al- Qur’an itu, dan langsung duduk di hadapan Nadia, “Ya udah baca, kamu ngajinya sudah sampai juz berapa?”Tanya Nadia, “Gue,,,, Gue…”ujar Glenn terbata- bata.”Kenapa?”Tanya Nadia, “Gue belom bisa baca Al- qur’an.”ujar Glenn.”Apa?yang bener kamu?masa udah setua ini kamu belum bisa baca Al- qur’an?”Tanya Nadia, “Elo mau ngajarin gue gak?”ujar Glenn gusar, akhirnya Nadia mengangguk,”Ya sudah kita baca sama- sama,kamu baca Iqra’ dulu, Bismillahirrahmanirrahim…”saat Glenn sedang baca Iqra’ tiba- tiba anak- anak murid Nadia datang, “Assalmu’alaikum Bu Nadia…”ujar anak- anak itu, “Waalaikumsalam….ayo masuk anak- anak, kalian punya teman baru sekarang, namanya Kak Glenn.”ujar Nadia, semua muri- murid Nadia pun menyalami Glenn “si murid baru” .
Glenn benar- benar menikmati aktivitasnya sebagai murid ngaji nya Nadia, semakin lama Glenn semakin mengenal Nadia, ternyata Nadia itu gadis yang baik, sopan, dan yang paling penting Nadia adalah gadis berkerudung, semakin lama, Glenn semakin suka dengan Nadia.”Ma,Glenn lagi jatuh cinta nich.”ujar Glenn pada Mama. “Jatuh cinta sama siapa?”Tanya Mama, “Sama Gadis berkerudung ma, namanya Nadia, dia guru untuk anak- anak yang mengaji di mesjid.”ujar Glenn. “oohh…pantas Mama sering melihat kamu pergi ke masjid, untuk ketemu dia ya?”Tanya Mama, “Iya Ma, tapi bukan itu aja Ma, Glenn juga ikut pengajian sama Nadia, “ujar Glenn.”Bagus lah… Mama senang, kalo si Nadia itu bisa memberikan kamu perubahan yang lebih baik. “ujar Mama.”Jadi Mama setuju, kalau Glenn sama Nadia?”Tanya Glenn, Mama mengangguk, “Thanks ya ma…”ujar Glenn sambil mencium pipi Mama.
“Assalamu’alaikum… “Glenn datang ke masjid menemui Nadia, “Wa’alaikumsalam, masuk Glenn, masuk Glenn.”Ujar Nadia, “Kamu mau ngapain?kan pengajiannya nanti. “ujar Nadia. “Emang kalau bukan pengajian aku gak boleh datang kemari ya?”Tanya Glenn, “Aku? Tumben?biasanya “gue”?”Tanya Nadia,Glenn hanya tersenyum.”Boleh koq, aku malah senang sekarang tempat tongkrongan kamu mesjid, aku senang.”ujar Nadia.”Syukur dech kalo kamu senang, aku ngelakuin ini semua untuk kamu.”ujar Glenn. “maksud kamu?”Tanya Nadia, “Gak koq.anggap aja kamu gak dengar.”ujar Glenn.”Kamu gak boleh gitu dong Glenn, kita beribadah itu harus ikhlas karena Allah, bukan karena aku, ngerti kamu?”Tanya Nadia, “Iya.. iya… gitu aja marah, jangan marah dong..senyum aja biar ibadah terus dapat pahala dech..”ujar Glenn, Nadia pun tersenyum, “Nah.. gitu dong.”Ujar Glenn.Tiba- tiba hp Nadia bordering, “Halo, Assalamu’alaikum…”ujar Nadia, wajah Nadia langsung berubah. “Ada apa Nadia?”Tanya Glenn. “Maaf Glenn, aku harus ke rumah sakit sekarang, aku boleh minta tolong gak?”Tanya Nadia.”Kamu mau minta tolong apa? “Tanya Glenn. “Tolong selama aku pergi, kamu yang ngajarin anak- anak ya?”Ujar Nadia.”Ngajarin anak- anak?kamu kan tahu aku belom bisa baca Al- Qur’an, aku kan baru belajar Iqra’?”Tanya Glenn. “Please… kamu bisa cerita tentang perjuangan para Nabi kan?”Tanya Nadia. “Perjuangan para Nabi?aku gak tahu, jangankan perjuangan para nabi, pelajaran sejarah bangsa Indonesia aja, nilai ku pas-pasan.”Ujar Glenn. “Please… tolong bantu aku, aku harus buru- buru, nanti kalau anak- anak sudah datang kamu langsung ngajarin mereka ya, aku harus pulang dulu, Assalamualaikum..”Ujar Nadia sambil berlalu. “Nadia… Nadia…”panggil Glenn, sayang Nadia berlari meninggalkan Glenn sendirian.
Sudah beberapa hari ini, Nadia gak datang ke masjid, mau- tidak mau Glenn lah yang menggantikan Nadia sebagai guru, berhubung Glenn baru belajar Iqra, jadinya Glenn gak bisa mengajarkan anak- anak baca Al-qur’an, Glenn hanya membacakan buku cerita tentang perjuangan para nabi, dan setiap anak- anak bertanya, Glenn hanya bisa bilang ke murid- murid itu, “Kalian baca saja ya, kakak juga sama belajar seperti kalian , kalo kalian masih gak ngerti, kalian bisa Tanya ke orang tua kalian masing- masing.”ujar Glenn.”Huuuuuuu….” murid- murid itu menyoraki Glenn.
Hari ini Glenn jalan- jalan ke mall, disana Gleen melihat kerudung merah jambu, “Pasti bagus buat Nadia, aku beli ahh..nanti kalau Nadia sudah kembali aku berikan kerudung itu, pasti dia tambah manis dengan kerudung merah jambu ini.”batin Gleen, Glenn pun membeli kerudung itu.
Glenn hanya bisa membolak- balikkan badannya, Glenn benar- benar gak bisa tidur beberapa hari ini, “Cowok yang selalu ngantar Nadia itu siapa ya?apa pacar nya?ahhh.. gak mungkin. Terus kenapa Nadia gak masuk- masuk untuk ngajar anak- anak ya?”batin Glenn, Glenn pun mencoba menelepon ke HP Nadia, tapi gak ada jawaban, “Aaargh…kamu dimana sich Nad?”Tanya Glenn dalam hati.
Hari ini, Glenn kembali ke masjid untuk mengajar anak- anak, tiba- tiba Glenn melihat gadis berkerudung merah jambu itu, “Nadia……..”panggil Glenn.”Nad, kamu kemana aja?kenapa gak ada kabar?anak- anak pada nyariin tau?”Tanya Glenn, Nadia hanya tersenyum simpul. “Koq kamu seyum sich bukannya jawab pertanyaan aku.”ujar Glenn.”Makasih ya Glenn, kamu udah bantuin aku untuk ngajarin anak- anak ini, kata mereka kamu sering cerita tentang perjuangan Nabi ya?”Tanya Nadia, Glenn hanya mengangguk, “Nad, kamu belum menjawab pertanyaan aku, kamu kemana aja?”Tanya Glenn, Tapi Nadia tidak menjawab pertanyaan Glenn, “Nad, ini untuk kamu.”Ujar Glenn sambil menyerahkan bungkusan ke Nadia, “Mudah- mudahan kamu suka. “ujar Glenn lagi. Nadia pun menerima bungkusan itu, setelah di buka ternyata sebuah kerudung warna merah jambu, “Terimakasih Glenn, kamu koq tahu warna kesukaanku?”Tanya Nadia, “Rahasia..”Ujar Glenn.”kamu koq belom jawab pertanyaan ku sich?Kamu kemana aja?” Tanya Glenn,”Maaf selama ini aku udah banyak merepotkan kamu, Glenn,”Ujar Nadia, “Gak koq, aku gak merasa di repotkan, tolong Nad kamu jawab pertanyaan aku kenapa kamu gak ada kabar kemarin?”Tanya Glenn. “Aku terpaksa meriject semua panggilan karena aku sedang di rumah sakit.”Ujar Nadia. “Rumah sakit?siapa yang sakit?kamu yang sakit?kenapa gak kabarin aku?”Tanya Glenn. “Bukan aku yang sakit,”Ujar Nadia, “terus siapa?”Tanya Glenn, “Suami ku, dia kecelakaan lalu lintas,aku benar- benar kalut, makanya aku mematikan HP ku.”Ujar Nadia.”Suami?”Tanya Glenn, dia terkejut mendengar pernyataan Nadia. “Iya, aku menikah setahun yang lalu, Kamu ingat kan waktu aku menyiram kamu, waktu kamu godain aku?saat itu aku baru menikah.”Ujar Nadia, “Jadi yang membonceng mu itu suami mu?”Tanya Glenn, “Iya, kenapa?kamu melihat aku ya?kenapa gak menyapa aku?”Tanya Nadia.Glenn pun jatuh pingsan, “Glenn.. Glenn, kamu kenapa?” teriak Nadia.
Sabtu, 25 September 2010
Ketiadaan
Tiba tiba ada request dari ID "glensutarman" dengan avatar yang hanya dibalut dengan warna hitam saja dari yahoo! messenger ku. Terkejutnya aku di depan laptop melihat itu walau hanya dengan sebatas Pop-up message. Siapa ini?. Aku approve saja permintaanya. Dan blakk!! pintu di kamar dibelakangku yang gelap tertutup dengan keras. Pikirku itu tertutup oleh angin. Kini hanya ada cahaya dari layar laptop saja yang bisa kulihat.
Langsung saja dia menyapa ku di chat "Terus pandangi layar". Bulu kuduk ku berdiri. Aku menurut saja apa yang dikatakanya. Ku teguk setengah gelas bir lokal sisa semalam dengan teman temanku. Hanya sedikit, tidak membuatku mabuk. "Berapa harga dari hidupmu?". "Apa?" ku tanya balik dia di chat. "Harga hidupmu bahkan tak lebih dari muntahan anjing" katanya.
Siapa orang kurang ajar yang berani berkata seperti itu padaku?. "Kau sekarang berada dalam ketiadaan. Hidup antara Mati. Aku tahu kau baru saja meneguk segelas bir". Keringat dingin mengucur di kepalaku. Akhirnya aku menyadari sekelilingku gelap gulita. Apakah orang itu ada dikamarku?. "Hey, dimana kau?" balasku. "Dibelakangmu".
Saking kagetnya kaget setengah mati, Aku mundur terlempar dari layar laptopku. Hingga pintu kamar terhentak olehku. Akh... tepat dibelakangku tertancap pisau panjang dan menembus hingga perut. Dan kucabut pisau itu perlahan. Darah mengucur dengan deras dari belakangku. Tulangku patah, Aku terengap engap kehabisan nafas. Hingga akhirnya aku tidak bisa berdiri.
Lampu kamarku menyala. Dengan pengelihatanku yang samar, tengah berdirilah di depanku seseorang memakai jubah hitam dengan topeng yang sangat menyeramkan. Ia memegang handphone. Rupanya benar ia yang sedari tadi chat denganku dan menysup kamarku tiba tiba. Visualisasiku semakin hitam dan menghitam dan kondisi tubuh yang terus memburuk. Mukanya didekatkan padaku dan mengucapkan "Selamat tinggal". Tetapi bukan hanya dia yang aku tinggalkan, tetapi semua kehidupan duniaku.
Langsung saja dia menyapa ku di chat "Terus pandangi layar". Bulu kuduk ku berdiri. Aku menurut saja apa yang dikatakanya. Ku teguk setengah gelas bir lokal sisa semalam dengan teman temanku. Hanya sedikit, tidak membuatku mabuk. "Berapa harga dari hidupmu?". "Apa?" ku tanya balik dia di chat. "Harga hidupmu bahkan tak lebih dari muntahan anjing" katanya.
Siapa orang kurang ajar yang berani berkata seperti itu padaku?. "Kau sekarang berada dalam ketiadaan. Hidup antara Mati. Aku tahu kau baru saja meneguk segelas bir". Keringat dingin mengucur di kepalaku. Akhirnya aku menyadari sekelilingku gelap gulita. Apakah orang itu ada dikamarku?. "Hey, dimana kau?" balasku. "Dibelakangmu".
Saking kagetnya kaget setengah mati, Aku mundur terlempar dari layar laptopku. Hingga pintu kamar terhentak olehku. Akh... tepat dibelakangku tertancap pisau panjang dan menembus hingga perut. Dan kucabut pisau itu perlahan. Darah mengucur dengan deras dari belakangku. Tulangku patah, Aku terengap engap kehabisan nafas. Hingga akhirnya aku tidak bisa berdiri.
Lampu kamarku menyala. Dengan pengelihatanku yang samar, tengah berdirilah di depanku seseorang memakai jubah hitam dengan topeng yang sangat menyeramkan. Ia memegang handphone. Rupanya benar ia yang sedari tadi chat denganku dan menysup kamarku tiba tiba. Visualisasiku semakin hitam dan menghitam dan kondisi tubuh yang terus memburuk. Mukanya didekatkan padaku dan mengucapkan "Selamat tinggal". Tetapi bukan hanya dia yang aku tinggalkan, tetapi semua kehidupan duniaku.
inikah FIRST LOVE?
Saat itu sore hari, aku sedang duduk-duduk di teras rumah untuk mencari udara segar. Disebelah tangan kananku, aku memegang teh kotak. Dan disebelah tangan kiriku, aku memegang Hp. Sambil melihat-lihat langit dan minum teh kotak, tiba-tiba saja tangan kiriku bergetar. Ternyata ada sms masuk. Hmm.. dari Monic, teman tetanggaku. “Dita, sudah jam 4 nih. Ayuk kita jalan² keliling taman. Aku tunggu di depan rumahku yah.”Setelah selesai membaca sms itu, aku pun langsung keluar rumah untuk menghampiri Monic. Rumahku dan rumah Monic hanya beda 7 rumah, sangat dekat. Monic adalah teman baikku dari kecil, sekarang ia duduk di kelas SMP I, lebih tua dariku setahun. Monic sekolah di SMP Permata Indah, sedangkan aku di SD Harapan Kasih. “Ditaaaaaa!” Seseorang memanggil namaku. Aku kenal suara itu – sangat mengenalnya. Aku melirik kesana kemari. Itu dia Monic! Aku langsung menghampiri Monic yang sedang berdiri di depan rumahnya. Aku dan Monic pun langsung menuju ke sebuah taman yang tidak begitu jauh dari rumah kami. Kami sudah terbiasa jalan-jalan sore seperti ini.*** Aku melihat jam di Hp-ku. Ternyata sudah jam 6 lewat. Aku dan Monic harus cepat-cepat pulang karena kalau tidak, mamaku bisa ngomel-ngomel karena pulang terlalu sore. Maklum saja, aku masih SD. Di perjalanan pulang menuju ke rumah, tiba-tiba saja aku melihat Monic berhenti berjalan dan ia bertemu dengan seorang laki-laki. Monic mengobrol dengan laki-laki itu dengan sangat – akrab. Aku penasaran siapa laki-laki itu. Aku mencoba mengintip-ngintip melihat wajah laki-laki itu. Hmm.. aku tidak mengenalnya, bahkan belum pernah bertemu dengannya. Aku memperhatikan wajahnya, benar-benar rasanya jantung ini berdetak 2x lebih cepat! Ternyata wajah laki-laki itu benar-benar tampan. Dengan tinggi yang tidak beda jauh dariku, ia memakai kaos biru tua dan celana jeans yang hanya sepanjang lutut. Benar-benar aku terpesona melihatnya. Di dalam hatiku, aku terus bertanya-tanya siapa laki-laki itu.Sesaat aku sedang memperhatikan laki-laki itu dari jarak yang lumayan dekat, tiba-tiba saja Monic menarik tanganku dan segera mengajakku untuk kembali melanjutkan perjalanan pulang. Aku segera melirik jam lagi, ternyata sudah jam setengah 7! Gawat! Aku bisa kena omel oleh mamaku. Aku dan Monic segara buru-buru pulang.Sesampai di rumah aku benar-benar terus memikirkan tentang laki-laki itu. Kenapa selama ini aku tidak pernah melihatnya kalau ternyata rumah dia tidak begitu jauh dari sini? Aku berencana untuk menanyakan Monic tentang laki-laki tadi. Tetapi kapan? Jujur saja, aku tidak berani untuk menanyakan hal-hal seperti ini. *** Ternyata hari ini sudah hari kamis lagi, sudah sebulan semenjak aku bertemu dengan laki-laki itu. Sampai hari ini aku pun belum bertemu dengannya lagi. Setiap hari aku terus berharap agar bisa melihat laki- laki itu, walaupun melihatnya semenit saja pun tidak apa-apa rasanya bagiku. Setiap hari aku terus memikirkan siapa nama laki-laki itu, sekolah dimana dia, sudah kelas berapa dia. Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantuiku sebulan terakhir ini. Bahkan, sampai hari ini pun aku masih tidak berani bertanya kepada Monic. Sungguh apakah aku pengecut? “Ditaaaaa!” Ternyata suara mama memanggilku. Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar menghampiri mama yang sedang ada di dapur. “Dit, tolong kamu belikan mama terigu yah 2kg saja di warung dekat taman sana. Ini uangnya.” Kata mama sambil memberikanku sejumlah uang. Sebenarnya aku malas untuk pergi ke warung, tetapi mendengar mama berkata kalu warung nya dekat taman, tiba-tiba saja aku teringat kalau rumah laki-laki yang saat itu juga dekat dengan taman. Aku hanya bisa berharap agar aku bisa bertemu dengannya hari ini.Sesampai aku di warung ini, terdengar suara kaki orang berjalan seperti sedang menuju kemari. Aku menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang datang. Ternyata! Laki-laki itu! Aku benar-benar senang bisa melihat – bisa bertemu dengan laki-laki itu lagi. Entah kenapa rasanya sangat bahagia bisa melihat dan bisa bertemu lagi. Aku benar-benar sangat memperhatikannya saat ini, ia memakai baju kaos berwarna hitam dengan celana jeans panjang. Tiba-tiba, ia tersenyum! Ia tersenyum melihatku. Apakah dia masih ingat dengan wajahku yang sebulan lalu pernah bertemu di dekat taman saat bersama Monic? Setelah selesai membeli terigu, aku pun pulang. Pelan-pelan aku pergi menjauh dari warung itu sambil memperhatikan dia.Sampai di rumah aku langsung mengambil hp-ku dan dan benar-benar memberanikan diri untuk sms Monic menanyakan tentang laki-laki itu. Dengar-dengar Monic pun ternyata satu sekolah dengannya. Aku juga penasaran kenapa Monic bisa kenal dengannya.Monic membalas sms ku! Monic memberitahukan semuanya yang ia tahu tentang laki-laki itu. Sampai-sampai Monic curiga dengan ku kenapa bertanya tentang laki-laki itu. Ternyata nama laki-laki itu JEREMY♥ ! Benar-benar nama yang aku sukai. Ia juga benar satu sekolah dengan Monic, dan ia kelas SMP3 sekarang. Jeremy. Jeremy. Jeremy. Nama itu jadi terus menghantui pikiranku. Ternyata ia beda 3 tahun denganku. Yaa mulai semenjak itu, setiap hari, setiap minggu, bahkan setiap bulan aku hanya bisa berharap suatu hari aku bisa berkenalan dengannya. Aku merasa, aku suka padanya – yah, aku benar-benar suka padanya, seperti cinta pada pandangan pertama. *** Tak terasa hari ini aku sudah akan di MOS menjadi murid SMP. Aku menetapkan untuk sekolah di SMP Permata Indah juga. Yah, selain banyak teman-teman dan saudara ku yang di bersekolah ini, ingin bertemu dengannya juga adalah salah satu alasanku masuk di sekolah ini. Saat ini aku dan teman-teman baruku yang lainnya sedang ditugaskan untuk menyapu di lapangan sekolah. Beginilah rasanya di MOS, selalu di suruh-suruh.Sesaat aku sedang menyapu di dekat gerbang sekolah, aku melihat seperti.. sesosok orang mirip Jeremy. Semakin dekat aku melihatnya, ternyata benar! Itu Jeremy! Akhirnya hari ini aku benar-benar bisa melihatnya, benar-benar bisa bertemu dengannya lagi. Tidak salah lagi, itu Jeremy. Aku benar-benar sangat mengenal dan mengingat wajahnya. Aku melihatnya sedang di MOS juga, ya, sekarang dia sudah kelas SMA I. dia memakai seragam SMP putih – biru, dengan memakai topi buatan sendiri dari kertas, dan sepatu hitam dengan kaos kaki sepanjang betis, sambil membawa keranjang belanja kesana kemari. Aku tertawa kecil. Melihatnya berpakain layaknya orang culun seperti itu. Aku bahkan tidak menyangka, aku bisa bertemu dengannya disini, hari ini.“Hey! Lanjutin sapunya! Jangan bengong terus kerjaannya!” Seorang kakak kelas menegerku. Ah. Mikir apa aku ini sampai lupa menyapu. Tiba-tiba sosok Jeremy menghilang diantara kerumunan orang, sesaat aku menoleh ke arah kakak kelas yang menegurku tadi. Aku terus melihat kesana kemari tetapi tetap tidak terlihat sosok Jeremy lagi.Ternyata tugas menyapu pun sudah selesai, lalu aku dan yang lain kembali ke gedung sekolah. *** Sekarang bulan April 2009. Benar-benar cepat tak terasa aku sudah akan naik kelas SMP2 sebentar lagi. Aku sedang duduk di depan computer, sedang membuka facebook dan mengerjakan tugas. Sekarang sedang benar-benar jamannya orang-orang main facebook. Tiba-tiba Monic mengajakku chat dif b. ia memberitahukan bahwa ternyata Jeremy memiliki fb Monic juga tau kalu aku menyukai Jeremy. Namun jujur saja, aku sekarang sudah tidak begitu menyimpan rasa terhadap Jeremy. 5 bulan terakhir ini aku benar-benar tidak bertemu dengannya di taman atau di tempat-tempat lainnya. Sampai-samapai aku merasa menyukai orang lain, teman sekelasku, bernama Rio.Aku pun segera membuka fb Jeremy. Nama fb dia adalah ‘Nicolas Jeremy’. Hmm ternyata nama lengkapnya adalah Nicolas Jeremy. Aku tersenyum kecil. Melihat foto profile picture Jeremy, dengan foto close-up dan senyuman yang membuatku teringat saat aku bertemu di warung saat itu kira-kira satu tahun yang lalu. Dan semenjak saat itu aku sering melihatnya, aku juga tidak tahu apakah Jeremy sadar kalau aku ada di sekitarnya saat itu. Baru 5 bulan terakhir ini aku tidak pernah melihatnya lagi. Setelah merenung sebentar, aku pun menetapkan meng-add fb nya.*** Setelah hampir seminggu menunggu, akhirnya friend request ku di confirm olehnya. Saat itu aku juga sedang online fb, dan aku melihat di bagian chat, Jeremy ternyata sedang ol juga. Aku ingin mencoba mengajaknya chat. Namun aku tidak berani. Sesaat aku akan logout fb, tiba-tiba saja ada yang mengajakku chat. Aku lihat siapa. Oh Tuhan! Ternyata Jeremy! Benar itu Jeremy yang mengajakku chat. Kami pun saling berkenalan. Entah kenapa hal seperti itu terjadi dengan alami begitu saja. Hmm dia juga meminta nomor Hp ku. Rasanya benar-benar keinginanku sudah terkabul. Rasa yang sudah mulai hilang itu, sekarang mulai muncul lagi.*** Ya, bahkan setiap hari aku sms-an dengannya. Aku juga benar-benar merasa akrab dengannya. Aku juga bingung kenapa hari itu dia bisa mengajakku chat dan meminta nomor Hpku, sampai akhirnya aku bisa berkenalan dan dekat seperti ini dengannya. Ini memang adalah salah satu keinginanku dulu.Benar-benar aku tidak menyangka! Di sela aku sedang sms-an dengannya, tiba-tiba saja dia menyatakn CINTA. Satu hal yang aku inginkan – tetapi juga aku takutkan terjadi juga. Jujur saja, aku masih tidak merasa yakin dengan perasaanku sendiri.“Dita, aku sayang sama kamu. Kamu mau jadi cewe aku?“ Benar-benar rasanya jantungku ingin copot setelah membaca sms itu. Aku masih ragu harus menjawab iya atau tidak.Setelah kuputuskan, dan aku menjawab IYA. Memang benar dari dulu ini adalah keinginan ku. Yaitu bisa berkenalan dan dekat dengannya. Tetapi aku masih tidak bisa menyangka bisa sampai seperti ini, sampai kejadian hari ini.Hari ini tanggal 30 May 2009. Baru saja kami berkenalan tidak lebih dari 2 bulan – dan hari ini aku sudah menjadi pacarnya. Seperti mimpi rasanya.*** Hari ini tepat 3 bulan aku jadian dengannya. Di saat aku dengannya baru-baru jadian, dia sangat perhatian – juga sangat baik terhadapku. Namun mulai bulan ke 2 dan bulan ke 3- dan bahkan sampai hari ini, aku benar-benar lost contact dengannya. Ia tidak pernah membalas sms ku ataupun mengangkat teleponku. Di sekolah pun kami jarang bertemu – bahkan tidak pernah bertemu. Sungguh aku khawatir!Siang itu juga di saat aku sedang merenung memikirkan hal ini, hpku bergetar. Cepat-cepat aku ambil hp yang terletak tidak gitu jauh dari tempat tidurku. Ternyata sms masuk dari ’JMY’. Aku menulis nama Jeremy di kontak Hp ku dengan nama JMY. Benar-benar aku kaget melihat sms darinya. Benar-benar isi sms yang mengecewakan sekali – sungguh .“Dit, maafin aku yah kalo ga bisa bales sms km, ato terima telp km. Aku lg sibuk banget sekarang. Jadi aku rasa lebih baik kita putus. Jeremy. “Benar-benar alasan yang tidak jelas dia berkata seperti itu. Benar-benar sedih aku saat itu. Perasaan ku sangat kacau sekarang. Aku memang sudah yakin dari awal kalau Jeremy memang tidak serius denganku. Ia hanya ingin main-main denganku. Mulai saat ini aku harus melupakan dia. Menghapus dia dari pikiranku! *** Wah benar-benar panas kuping ini. Setelah aku dan Nico bertelepon hamper 2jam! Cukup melelahkan. Tetapi aku sangat senang. Nico, sahabat terbaikku. Dia benar-benar baik denganku. Nico sekarang duduk di bangku kelas SMA I, sedangkan aku sudah kelas SMP3 sekarang. Waktu benar-benar berjalan sangat cepat. Semenjak kejadian satu tahun yang lalu, kejadian tentang aku dan seseorang bernama JMY. Rasanya mau pecah kepalaku mengingat itu lagi. Hah aku lapar, sudah jam 2 siang dan aku belom makan siang.“Mamaaa! Maa! Dimana sih mama?”Detelah aku mencari-cari dimana mama, ternyata ada di dapur sedang masak. Sambil menunggu makan dan duduk di meja makan, aku juga sedang sms-an dengan Nico. Tiba-tiba saja aku melihat nomor tak dikenal sms ku.“Dit, apa kabar? Masi inget aku? Ini Jeremy”. Apaaa?? Jeremy?? *** Semenjak itu, Jeremy, dia jadi sering smsku setiap hari. Jujur saja aku merasa sangat gelisah. Kenapa dia mengajakku sms lagi? Apa benar ada maksud dari semua ini? Sudah hamper 2minggu aku mulai smsan dengannya lagi. Walaupun aku sering tidak membalas sms nya.Sampai hari itu, hal yang tidak ku sangka terjadi lagi. Tiba-tiba dia membicarakan tentang masa lalu. Aku tidak ingin mengungkit masalah ini lagi. Dia meminta maaf padaku – meminta maaf tentang apa yang dulu terjadi. Dan satu hal yang membuat aku gelisah lagi. “Kamu mau jadi cewe aku lagi?” Apaa?? Jadi – dia mengajakku balikan lagi? Pertanyaan itu benar-benar membuat kepalaku penuh.Dengan mantap aku menjawab, “Maaf, aku rasa nggak mungkin. So, just friend yah.”Benar-benar aku lega setelah berkata seperti itu. Dan dia hanya membalas smsku, “Tidak apa-apa J” Sudah. Sesingkat itu. Dan semenjak itu dia tidak pernah sms aku lagi.Nico, sahabat terbaikku sekarang. Aku rasa, aku sudah cukup mempunyai seorang sahabat seperti Nico. Nico benar-benar berbeda dengan Jeremy. Jeremy yang dulu ternyata selalu aku damba-damba kan, ternyata seperti ini. Sungguh aku sangat kecewa – menyesal. Sudahlah jangan di pikirkan lagi. Tetapi tetap akan aku simpan di hati dan pikiran ini, ‘JMY, My First Love “
Langganan:
Postingan (Atom)

